KALBARAYA, NGANJUK – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Indonesia kini menjadi salah satu negara yang dituju oleh sejumlah negara asing untuk memenuhi kebutuhan pasokan pangan, khususnya komoditas beras. Hal ini terjadi di tengah gelombang proteksionisme pangan global di mana beberapa negara produsen mulai menghentikan keran ekspor mereka.

“Beberapa hari yang lalu, India mengumumkan penutupan ekspor untuk komoditas beras, jagung, dan gandum. Langkah ini kemudian disusul oleh Bangladesh. Pada akhirnya, ada negara-negara yang sebelumnya merasa lebih unggul kini justru datang kepada kita untuk meminta pasokan,” ujar Presiden Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).

Stok Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5,3 Juta Ton

Merespons dinamika permintaan global tersebut, Perum Bulog memastikan bahwa ketahanan pangan nasional dalam kondisi yang sangat aman. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, membeberkan bahwa posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 11 Mei 2026 telah menyentuh angka 5,3 juta ton.

Pihak manajemen Bulog optimis jumlah tersebut akan terus mengalami kenaikan signifikan seiring dengan masa panen yang masih berjalan di sejumlah sentra produksi.

“Target kami pada akhir bulan Mei ini stok bisa menembus angka 6 juta ton. Kami mengharapkan dukungan dan doa restu dari seluruh lapisan masyarakat agar target ini dapat terealisasi,” ungkap Rizal dalam pembukaan bazar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kantor Pusat Bulog, Jakarta Selatan, Minggu (17/5).

Volume pasokan yang menyentuh angka 5,3 juta ton ini tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan logistik pangan oleh Bulog. Rizal menegaskan, dengan ketersediaan stok yang melimpah tersebut, Indonesia berada dalam posisi yang sangat siap untuk menghadapi ancaman anomali cuaca seperti El Nino.

Presiden Beri Aturan Ketat Terkait Opsi Ekspor

Kendati pasar internasional membuka peluang besar bagi komoditas beras lokal, Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi tegas kepada jajaran direksi Bulog. Ia meminta agar kebijakan ekspor pangan tetap memprioritaskan stabilitas dalam negeri serta aspek kesejahteraan para petani domestik.

Presiden menggarisbawahi bahwa harga jual ke luar negeri tidak boleh ditekan terlalu rendah demi melindungi margin keuntungan yang berhak didapatkan oleh petani di dalam negeri.

“Saya ingatkan kepada Dirut Bulog, jangan menjual (beras) terlalu murah ke luar negeri. Kita harus ingat bahwa krisis global ini bisa berlangsung dalam waktu yang lama. Skala prioritas utama kita adalah mengamankan kebutuhan rakyat sendiri terlebih dahulu,” tegas Prabowo.

Keberanian Menampilkan Prestasi Swasembada

Lebih lanjut, Kepala Negara juga menyinggung adanya upaya dari beberapa negara konsumen yang sempat menawar atau meminta potongan harga khusus untuk beras asal Indonesia. Menurut Prabowo, fenomena ini menjadi indikator nyata betapa signifikannya dampak krisis pangan global saat ini.

Presiden menilai Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan yang kokoh dan mampu mengendalikan stabilitas harga di pasar domestik dengan sangat baik di tengah situasi global yang fluktuatif.

“Kita telah menorehkan banyak prestasi nyata, dan kita harus berani menyampaikan kebenaran ini kepada publik. Ini bukan iklan kebohongan, melainkan fakta bahwa kita telah mengamankan harga-harga dan berhasil mencapai swasembada pangan,” pungkasnya.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *