KALBARAYA, JAKARTA – Emiten perhotelan PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) mencatatkan penurunan performa keuangan sepanjang tahun buku 2025. Perseroan membukukan total pendapatan sebesar Rp123,99 miliar, terkoreksi 20,5 persen dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp155,90 miliar.
Meskipun demikian, realisasi capaian tahun lalu tercatat masih lebih tinggi jika disandingkan dengan pendapatan tahun 2023 yang berada di angka Rp133,10 miliar.
Profitabilitas Tertekan
Penurunan omzet ini berimbas langsung pada indikator profitabilitas operasional perseroan. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) SHID menyusut menjadi Rp34,30 miliar, dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp54,45 miliar.
Dampak dari tekanan ini membuat rugi bersih komprehensif perseroan membengkak menjadi Rp26,47 miliar, naik signifikan dari rugi bersih Rp12,69 miliar pada periode 2024.
“Pada tahun 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp123,9 miliar,” jelas Direktur Utama SHID, Dhanadi Kusuma Wardana Sukamdani, dalam agenda Public Expose Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (19/6).
Layanan F&B Jadi Penopang Utama
Di tengah kelesuan bisnis akomodasi, sektor kuliner justru tampil sebagai penyelamat performa bisnis emiten perhotelan ini. Segmen Food and Beverage (F&B) mendominasi dengan menyumbang 51,5 persen terhadap kantong pendapatan perusahaan. Kuatnya kontribusi F&B mengindikasikan bahwa aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) serta bisnis restoran masih bergeliat stabil.
Berikut porsi kontribusi lini bisnis terhadap total pendapatan SHID 2025:
- Makanan & Minuman (F&B): 51,5%
- Sewa Kamar Hotel: 35,5%
- Pendapatan Lain-lain: 12,3%
- Apartemen: 0,7%
Penyebab Utama: Sektor Korporasi Belum Imbangi Lesunya Proyek Pemerintah
Anjloknya pendapatan dari sektor sewa kamar dipicu oleh perubahan struktur pasar konsumen. Kontribusi dari segmen pemerintah (government) yang selama ini menjadi pasar utama okupansi kamar Sahid merosot tajam sebesar 22 poin persentase, dari semula 72 persen pada 2024 menjadi hanya 50 persen di tahun 2025.
Meskipun manajemen sukses menggenjot pasar lain—seperti segmen korporasi yang naik ke 15 persen (dari 9%), direct channel yang tumbuh ke 21 persen (dari 9%), serta konsumen retail individu yang naik ke 11 persen (dari 5%)—pertumbuhan tersebut dinilai belum mampu menutup kekosongan kuota pemesanan yang ditinggalkan oleh sektor pemerintahan.