TATUNG: Atraksi tatung pada Festival Cap Go Meh Singkawang, Rabu (12/2/2025). Sebanyak 746 tatung tampil dalam event akbar . (Hari Kurniatama)

KALBARAYA – Kota Singkawang, Kalimantan Barat, kembali bersiap menyuguhkan atraksi budaya paling ikonik di Indonesia. Sebanyak 727 tatung dipastikan akan turun ke jalan untuk memeriahkan puncak Festival Cap Go Meh 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 3 Maret mendatang.

Perayaan tahun ini mengusung makna yang sangat mendalam bagi identitas Singkawang sebagai “Kota Tertoleransi”. Pasalnya, kemeriahan budaya Tionghoa ini bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadan, menciptakan momentum unik yang menunjukkan betapa kuatnya kerukunan antarumat beragama di kota ini.

Detail Parade: Ratusan Tandu hingga Replika Naga

Ketua Pelaksana Perayaan Imlek dan Cap Go Meh Singkawang, Bun Cin Thong, mengungkapkan bahwa tingginya angka partisipasi tahun ini merupakan bukti antusiasme masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Secara terperinci, parade akan diwarnai oleh:

  • Tatung: 523 peserta menggunakan tandu dan 108 peserta tanpa tandu.
  • Elemen Budaya: 75 miniatur, 15 jelangkung, 3 naga, dan 2 barongsai.
  • Peserta Tambahan: Satu rombongan pejalan kaki yang ikut menyemarakkan barisan.

“Kehadiran ratusan tatung ini bukan sekadar tontonan, melainkan manifestasi spiritual dan komitmen warga dalam melestarikan tradisi yang telah menjadi denyut nadi Kota Singkawang,” ujar Bun Cin Thong.

Magnet Wisata: Pejabat Negara hingga Duta Besar Dijadwalkan Hadir

Daya tarik Festival Cap Go Meh Singkawang kian diakui di level nasional dan internasional. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Singkawang, Mokhllis, mencatat sebanyak 736 undangan telah disebar ke berbagai penjuru.

Sejumlah tokoh penting dijadwalkan hadir, antara lain:

  • Petinggi Negara: Ketua MPR RI dan Ketua DPD RI.
  • Jajaran Menteri: Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, Mendagri, serta Wamen Ekonomi Kreatif.
  • Internasional: Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia.

Pesan Toleransi: “Damai itu Indah”

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menekankan bahwa festival ini adalah cerminan harmoni etnis. Persinggungan waktu antara Cap Go Meh dan awal Ramadan tahun ini justru menjadi panggung nyata bagi masyarakat untuk membuktikan bahwa keberagaman adalah kekuatan.

“Cap Go Meh lahir dari tradisi dan tumbuh subur dalam kebinekaan. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa di Singkawang, masyarakat hidup berdampingan dengan damai. Pesan kami jelas: damai itu indah dan sangat membanggakan,” tegas Tjhai Chui Mie.

Pemerintah kota juga terus menggencarkan promosi secara masif demi menarik kunjungan wisatawan mancanegara. Dengan publikasi yang lebih luas, Singkawang optimis dapat memperkuat citranya sebagai destinasi wisata budaya unggulan yang mampu menggerakkan roda ekonomi daerah melalui sektor pariwisata.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *