KALBARAYA, WASHINGTON D.C. – Skala finansial dari konfrontasi militer Amerika Serikat terhadap Iran mulai terkuak. Laporan internal yang diserahkan kepada Kongres AS mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah menggelontorkan amunisi senilai kurang lebih USD 5,6 miliar atau setara Rp94,9 triliun hanya dalam dua hari pertama operasi.

Angka fantastis ini memicu alarm di Capitol Hill. Para anggota parlemen mulai mengkhawatirkan ketahanan stok persenjataan nasional, mengingat intensitas serangan yang dimulai sejak 28 Februari 2026 bersama sekutu utamanya, Israel, terus meningkat sementara kapasitas produksi industri pertahanan domestik masih terbatas.

Krisis Persediaan dan Pertemuan Darurat Pentagon

Laju konsumsi persenjataan yang sangat cepat di medan tempur dikhawatirkan akan menguras cadangan strategis AS. Berdasarkan laporan Straits Times, Rabu (11/3/2026), Presiden Trump dilaporkan telah melakukan pertemuan tertutup dengan eksekutif dari tujuh raksasa kontraktor pertahanan pada 6 Maret lalu.

Pertemuan darurat tersebut bertujuan untuk mencari solusi atas potensi defisit stok amunisi. Pentagon saat ini tengah berada di bawah tekanan besar untuk mengakselerasi lini produksi guna mengisi kembali gudang-gudang senjata yang kian menipis akibat tingginya permintaan operasional di Timur Tengah.

Demokrat Tuntut Transparansi dan Penjelasan Publik

Di tengah membengkaknya biaya perang yang belum diumumkan secara resmi oleh Gedung Putih, gelombang kritik datang dari kubu Demokrat. Mereka mendesak pemerintah untuk lebih terbuka mengenai dampak konflik ini terhadap kesiapan pertahanan dalam negeri (homeland security).

Pemimpin Mayoritas Senat, Chuck Schumer, memberikan pernyataan keras dalam sidang Senat pada 10 Maret. Ia menegaskan bahwa publik berhak mengetahui urgensi dan tujuan akhir dari pengerahan pasukan serta anggaran masif tersebut.

“Rakyat Amerika perlu memahami alasan di balik pengiriman tentara kita ke medan laga. Hingga detik ini, penjelasan itu belum ada, dan hal ini harus segera diubah,” tegas Schumer dalam pidatonya.

Estimasi Anggaran Tambahan: Tembus Rp847 Triliun?

Para staf di Kongres memprediksi Gedung Putih akan segera mengajukan proposal anggaran tambahan (supplemental funding) untuk mendanai kelanjutan perang. Meski angka pastinya masih digodok, sejumlah pejabat memperkirakan permintaan tersebut bisa menyentuh angka USD 50 miliar atau sekitar Rp847 triliun.

Bahkan, beberapa analis menilai angka tersebut masih terlalu konservatif jika melihat skala konflik yang terus meluas dan melibatkan berbagai infrastruktur pertahanan canggih yang berbiaya tinggi.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *