Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.

KALBARAYA – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase krusial setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman militer skala besar terhadap Iran. Trump memperingatkan akan meluncurkan serangan “20 kali lipat lebih keras” jika Teheran tetap bersikeras memblokade Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa AS siap menghantam target-target strategis yang akan membuat Iran “hampir mustahil untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara.” Ia menyebut tindakan Iran sebagai ancaman bagi ekonomi global, terutama China dan negara-negara pengimpor energi lainnya.

Respons Balasan Iran: “Selat Kedamaian atau Penderitaan”

Ancaman tersebut langsung dijawab oleh Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani. Melalui akun media sosial X, Larijani menegaskan bahwa rakyat Iran tidak gentar terhadap apa yang ia sebut sebagai “ancaman kosong.”

“Rakyat kami tidak takut; mereka yang lebih besar dari Anda pun gagal menghapus kami. Waspadalah jangan sampai Anda yang justru lenyap,” tulis Larijani dalam bahasa Persia dan Arab, Rabu (11/3/2026).

Larijani memberikan pilihan dikotomis bagi komunitas internasional: Selat Hormuz akan menjadi jalur perdamaian bagi semua pihak, atau berubah menjadi “Selat penderitaan” bagi mereka yang ia sebut sebagai penghasut perang. Ia memastikan penutupan jalur laut tersebut akan berlanjut selama agresi AS dan Israel terhadap Iran tidak dihentikan.

Selat Hormuz: Titik Nadir Energi Global

Signifikansi Selat Hormuz sebagai “jantung” perdagangan energi dunia menjadi alasan utama memanasnya retorika kedua negara. Jalur sempit sepanjang 33 km ini merupakan jalur perlintasan bagi:

  • Minyak Dunia: Sekitar 20 juta barel minyak (seperlima produksi global) melintas setiap hari.
  • Gas Alam: Sepertiga dari pasokan LNG (Liquid Natural Gas) dunia bergantung pada jalur ini.
  • Ketergantungan Asia: Jepang mengimpor 90% minyaknya lewat sini, disusul Korea Selatan (70%), dan India (50%).

Akibat blokade ini, indeks pasar saham di Asia dilaporkan anjlok pada awal pekan, memicu kekhawatiran krisis energi jangka panjang.

Skeptisisme Terhadap Intervensi Eropa

Di tengah upaya Prancis mengirimkan dua fregat ke Laut Merah untuk membantu membuka blokade, Larijani menyatakan sikap pesimisnya. Ia menilai keamanan di Selat Hormuz mustahil tercapai selama “api peperangan” terus dikobarkan oleh AS dan Israel.

“Keamanan tidak akan hadir di tengah kobaran api, terutama jika rencana tersebut datang dari pihak-pihak yang mendukung agresi ini,” tambah Larijani, merujuk pada keterlibatan negara-negara Barat dalam konflik tersebut.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *