Foto: (via REUTERS/Majid Asgaripour)

KALBARAYA – Di saat eskalasi militer melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel kian memuncak, sebuah fenomena unik terjadi di perbatasan Turki. Ribuan warga negara Iran yang berada di luar negeri justru memilih untuk pulang ke kampung halaman. Fenomena ini mematahkan asumsi lazim tentang pengungsian massal saat perang, dan lebih menunjukkan potret patriotisme yang mengental.

Gerbang Perbatasan Kapıköy di Provinsi Van, Turki, menjadi saksi bisu gelombang kepulangan ini. Warga Iran tampak mengantre panjang untuk menyeberang kembali ke negaranya, menyatakan kesiapan untuk berdiri bersama keluarga dan bangsa menghadapi agresi asing.

Motivasi kepulangan para perantau ini beragam, namun memiliki satu benang merah: tanggung jawab moral. Dalam wawancara dengan media lokal Turki, sebagaimana dikutip dari kantor berita Tasnim, para warga mengungkapkan rasa sakit hati atas serangan yang menimpa negara mereka.

“Negara dan rakyat kami sedang disakiti. Sekarang, prioritas saya adalah berada di sisi mereka. Saya ingin berkontribusi semampu saya untuk tanah air,” ujar seorang warga Iran dengan nada tegas.

Beberapa pelancong yang awalnya berniat menghabiskan waktu libur di Turki pun memilih mempersingkat kunjungan mereka. “Kami datang untuk berwisata, namun saat perang pecah, keinginan untuk tinggal lebih lama hilang. Kami harus kembali untuk mendukung rakyat kami,” ungkap warga lainnya.

Kepulangan ini juga didorong oleh kesadaran akan kewajiban pertahanan negara. Seorang pemuda Iran yang ditemui di perbatasan menyatakan bahwa masa wajib militer dua tahunnya telah tiba, dan ia memilih untuk menjalaninya tepat di saat negaranya membutuhkan.

Media-media Turki menyoroti keberanian ini dengan tajuk utama seperti “Warga Iran Tak Gentar Perang, Memilih Lindungi Tanah Air”. Narasi yang berkembang di media sosial dan laporan video juga mempertegas posisi mereka: tidak ada situasi “melarikan diri”.

“Memasuki konflik dengan Israel bukanlah pilihan kami, merekalah yang memulai. Maka, kembali ke negara dan melawan agresor adalah satu-satunya jalan,” bunyi salah satu pesan yang viral di platform digital.

Bagi masyarakat Iran di Turki, kembali ke Teheran atau kota-kota lainnya di saat genting bukan sekadar berkumpul dengan keluarga, melainkan simbol persatuan nasional. Aksi ini sekaligus menepis anggapan dunia internasional bahwa warga akan mencari perlindungan di luar negeri saat konflik pecah.

Hingga Senin (9/3/2026), arus kepulangan di perbatasan dilaporkan masih terus mengalir. Hal ini mencerminkan bahwa bagi warga Iran, kedaulatan negara melampaui rasa takut akan ancaman serangan udara yang terus membayangi wilayah mereka.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *