Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari saat konferensi pers secara daring. (Foto: Tangkapan Layar Konferensi Pers)

KALBARAYA, KUPANG – Tanggap darurat pascagempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dikebut pada hari kedua, Minggu (16/8/2026). Tim gabungan mencatat sejumlah progres penting, termasuk keberhasilan menembus jalur darat di kawasan Reo yang sempat terputus. Menariknya, di tengah parahnya kerusakan, hingga kini belum ada satu pun laporan mengenai warga yang hilang.

Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, memastikan bahwa Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) belum menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) di tujuh kabupaten/kota yang terdampak.

“Hingga saat ini, belum ada laporan kehilangan anggota keluarga yang masuk ke Basarnas. Meski demikian, personel kami tetap disiagakan penuh di seluruh wilayah terdampak agar bisa merespons situasi secara cepat,” ungkap Abdul dalam konferensi pers virtual, Minggu (16/8/2026) sore.

Update Korban: 53 Jiwa Melayang, 105 Dirawat

Berdasarkan pemutakhiran data BNPB pada Minggu sore, lindu dahsyat tersebut telah merenggut 53 korban jiwa yang tersebar di enam wilayah.

Berikut adalah rincian sebaran korban meninggal dunia:

  • Kabupaten Manggarai: 25 jiwa
  • Kabupaten Manggarai Timur: 20 jiwa
  • Kabupaten Sikka: 4 jiwa
  • Kabupaten Ende: 2 jiwa
  • Kabupaten Manggarai Barat: 1 jiwa
  • Kabupaten Nagekeo: 1 jiwa

Selain korban tewas, tercatat ada 105 warga yang mengalami luka berat dan ringan. Mereka saat ini tengah menjalani perawatan intensif dengan rincian: Manggarai Timur (80 orang), Manggarai (37 orang), Sikka (12 orang), dan Manggarai Barat (6 orang).

Jalur Reo Ditembus, Distribusi Bantuan Dipercepat

Sejak pukul 06.00 WITA, operasi SAR difokuskan pada pemulihan jalur darat, khususnya di Kota Mbay dan Reo. Kepala Kantor SAR setempat, Edy, memastikan akses Reo yang terblokir longsor kini sudah dapat dilewati kembali.

Terbukanya urat nadi transportasi ini menjadi angin segar bagi tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, dan relawan.

“Akses darat ini sangat krusial. Dengan terbukanya jalur Reo, proses distribusi bantuan medis dan evakuasi korban yang sebelumnya terisolasi di pelosok kini bisa diakselerasi,” jelas Edy.

Terkait perbedaan data awal yang dirilis Basarnas Maumere pada pagi hari dengan data BNPB sore hari, Edy menjelaskan bahwa hal tersebut sangat wajar. Angka korban di lapangan masih bersifat dinamis karena proses penyisiran dan pendataan oleh BPBD masih terus berlangsung. Warga diimbau untuk tetap tenang dan selalu merujuk pada informasi dari otoritas resmi.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *