KALBARAYA, BERLIN – Pemerintah Jerman resmi memberlakukan regulasi ketat yang melarang Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menaikkan harga BBM lebih dari sekali dalam sehari. Kebijakan drastis ini diambil menyusul gejolak pasar energi akibat konflik bersenjata di kawasan Iran yang memicu gangguan rantai pasok minyak mentah dunia.
Berdasarkan aturan baru yang berlaku per Rabu (1/4/2026), SPBU di Jerman hanya diizinkan melakukan penyesuaian harga ke atas tepat pada pukul 12.00 siang. Sebelumnya, fluktuasi harga di tingkat pengecer bisa berubah hingga 22 kali dalam sehari akibat ketidakpastian tensi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melawan “Efek Roket” dan Ancaman Denda Besar
Pemerintah Jerman menegaskan langkah ini bertujuan menyudahi fenomena “efek roket”, sebuah kondisi di mana harga eceran melonjak instan saat harga minyak dunia naik, namun sangat lambat turun ketika harga pasar melandai.
Meski kenaikan dibatasi, penyedia energi diperbolehkan menurunkan harga kapan saja. Namun, bagi perusahaan yang melanggar ketentuan frekuensi kenaikan harga, otoritas Jerman telah menyiapkan sanksi denda hingga 100.000 Euro (sekitar Rp 1,96 miliar).
Langkah ini sejalan dengan kebijakan negara Eropa lainnya:
- Inggris: Menyiapkan paket bantuan energi senilai 53 juta Poundsterling dan memperpanjang subsidi bea bahan bakar.
- Denmark: Mengimbau pengurangan konsumsi energi dan penggunaan kendaraan pribadi.
- Austria & Hongaria: Menerapkan pagu harga (price cap) pada bahan bakar.
- Prancis: Meluncurkan inspeksi mendadak guna mencegah spekulasi harga.
Pasar Minyak Berguncang Akibat Retorika Militer Donald Trump
Di pasar global, harga minyak mentah kembali melonjak melewati angka psikologis USD 100 per barel pada Kamis (2/4/2026). Sentimen pasar memanas setelah Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan peningkatan agresi militer terhadap Iran dalam waktu dekat.
- Minyak WTI (Mei): Menguat 4,1% ke posisi USD 104,21 per barel.
- Minyak Brent (Juni): Melambung 5% menjadi USD 106,42 per barel.
Dalam pidato nasionalnya, Trump menuding rezim Iran melakukan sabotase terhadap kapal tanker komersial dan mengancam akan melakukan serangan balasan yang “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Meski begitu, Trump tetap menyisakan ruang diplomasi dengan menyebut adanya komunikasi yang sedang berjalan dengan Teheran.
Blokade Selat Hormuz: Jantung Energi Dunia Terhenti
Krisis energi kian diperparah dengan lumpuhnya lalu lintas di Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu. Jalur yang mengalirkan sekitar 25% pasokan minyak bumi dunia tersebut kini efektif tertutup, memicu salah satu krisis energi terburuk dalam sejarah modern.
Analis risiko politik dari Oxford Analytica, Giles Alston, memprediksi bahwa operasional kapal tanker di jalur tersebut tidak akan pulih dalam waktu dekat. Di sisi lain, terdapat simpang siur klaim mengenai negosiasi damai; Trump mengklaim Iran meminta gencatan senjata, namun pihak Teheran membantah keras dan menegaskan kendali penuh Angkatan Laut IRGC atas jalur transit tersebut.
