KALBARAYA, GAZA – Eskalasi kekerasan kembali mengguncang Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026), memicu kekhawatiran akan runtuhnya kesepakatan damai yang telah berjalan sejak akhir tahun lalu. Sedikitnya 12 warga sipil Palestina dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan udara Israel, menandai insiden paling berdarah sejak gencatan senjata resmi diberlakukan pada Oktober 2025.
Laporan dari fasilitas medis setempat menyebutkan bahwa serangan menghantam dua titik krusial, yakni kawasan pemukiman di Gaza Utara dan kamp pengungsian di wilayah Selatan.
Pihak Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza mengonfirmasi jatuhnya lima korban jiwa dari satu keluarga setelah sebuah apartemen menjadi sasaran rudal. Korban terdiri dari tiga anak-anak, bibi, dan nenek mereka, sementara sang ibu dilaporkan berhasil selamat dari reruntuhan.
Di saat yang hampir bersamaan, serangan udara juga menghantam area tenda pengungsi di Khan Younis. Otoritas Rumah Sakit Nasser menyatakan bahwa serangan tersebut memicu kebakaran hebat yang melumat pemukiman darurat.
“Tujuh orang kehilangan nyawa di Khan Younis, termasuk seorang ayah beserta tiga anak dan tiga cucunya,” jelas pejabat medis setempat sebagaimana dilansir dari kantor berita internasional.
Ironisnya, serangan mematikan ini terjadi hanya sehari sebelum jadwal pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir. Pembukaan terbatas ini merupakan bagian dari fase kedua peta jalan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Bagi penduduk Gaza, akses Rafah sangat krusial sebagai jalur evakuasi medis mengingat hancurnya infrastruktur kesehatan di dalam wilayah kantong tersebut akibat konflik berkepanjangan.
Meski secara formal berada dalam periode gencatan senjata sejak 10 Oktober lalu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat realitas yang kontradiktif di lapangan. Hingga kini, lebih dari 500 warga Palestina dilaporkan tewas akibat berbagai insiden serangan Israel selama masa “damai” tersebut.
Hingga berita ini dipublikasikan, militer Israel (IDF) belum merilis pernyataan resmi atau alasan strategis di balik serangan udara terbaru yang menyasar pemukiman sipil tersebut.
