Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban bencana tanah longsor yang ditemukan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

KALBARAYA – Kabar duka menyelimuti Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, mengonfirmasi bahwa sebanyak 23 prajurit Marinir menjadi korban dalam musibah tanah longsor yang melanda kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Hingga Senin (26/1/2026), tim SAR gabungan baru berhasil mengevakuasi empat personel dalam keadaan meninggal dunia. Pengumuman ini disampaikan KSAL usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Senayan, Jakarta.

“Atas izin Menteri Pertahanan dan Panglima TNI, saya menyampaikan bahwa benar terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor di Jawa Barat. Saat ini, baru empat personel yang ditemukan dalam kondisi gugur,” ujar Laksamana Muhammad Ali di hadapan awak media.

Kendala Medan Berat: Alat Berat Belum Bisa Tembus

Proses evakuasi di titik bencana dilaporkan menghadapi tantangan besar. Laksamana Ali menjelaskan bahwa akses menuju lokasi terdampak di Desa Pasirlangu tersebut sulit dijangkau oleh alat-alat berat. Selain faktor cuaca yang tidak menentu, kondisi jalan yang sempit dan rusak menjadi hambatan utama mobilisasi bantuan fisik.

“Alat berat memang belum bisa masuk ke area utama karena kendala infrastruktur jalan yang kecil serta kondisi cuaca di lapangan,” jelasnya.

Pencarian Intensif Gunakan Teknologi Thermal dan Anjing Pelacak

Meski terkendala alat berat, TNI AL memastikan proses pencarian 19 prajurit lainnya tetap menjadi prioritas utama. Laksamana Ali menegaskan bahwa tim di lapangan telah mengerahkan berbagai teknologi mutakhir untuk mendeteksi keberadaan para korban di bawah material longsor.

Strategi pencarian saat ini difokuskan pada penggunaan:

  • Drone Pemantau: Untuk memetakan titik-titik rawan dan perubahan struktur tanah secara real-time.
  • Sensor Thermal: Digunakan untuk mendeteksi sisa panas tubuh di bawah timbunan tanah.
  • Unit K-9 (Anjing Pelacak): Dikerahkan untuk mempercepat pelacakan lokasi personel yang masih hilang.

“Kami akan terus berupaya maksimal melakukan pencarian dengan memanfaatkan teknologi thermal, drone, serta bantuan anjing pelacak guna menemukan rekan-rekan kami secepat mungkin,” tutup KSAL.

Hingga saat ini, suasana haru masih menyelimuti proses pencarian di lokasi kejadian, sementara koordinasi lintas instansi terus diperketat untuk mempercepat pembukaan akses jalan bagi bantuan alat berat.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *