ILustrasi / Foto BBC News Indonesia

KALBARAYA, PHNOM PENH – Gelombang besar Warga Negara Indonesia (WNI) yang terlibat dalam jaringan penipuan daring (online scam) membanjiri Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, Kamboja. Fenomena ini terjadi setelah Pemerintah Kamboja menginstruksikan operasi besar-besaran untuk memberantas kejahatan siber di seluruh wilayahnya.

Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, mengungkapkan bahwa instruksi langsung dari Perdana Menteri Kamboja memicu kepanikan di kalangan sindikat. Para pengelola sarang scam di wilayah Poipet, Sihanoukville, hingga Kampot terpaksa melepaskan pekerja mereka untuk menghindari sergapan aparat hukum.

“Hanya dalam waktu singkat, ratusan WNI datang secara walk-in ke KBRI setelah dibiarkan keluar oleh perusahaan mereka. Tren ini diprediksi akan terus meningkat seiring berlanjutnya operasi penindakan,” ujar Santo dalam keterangan resminya, Rabu (21/1/2026).

Lonjakan Drastis: 1.440 WNI Melapor dalam Lima Hari

Data terbaru menunjukkan angka yang sangat signifikan. Hingga Selasa (20/1) malam, tercatat sebanyak 1.440 WNI telah ditangani pihak kedutaan. Puncak kedatangan terjadi pada Senin (19/1) dengan 520 orang melapor dalam satu hari saja. Angka ini tergolong fantastis mengingat sepanjang tahun 2025, KBRI hanya menangani sekitar 5.000 kasus serupa.

Mayoritas WNI yang melapor menghadapi kendala administratif yang pelik:

  • Kehilangan Dokumen: Paspor disita oleh sindikat.
  • Pelanggaran Keimigrasian: Status tinggal yang telah habis masa berlakunya (overstay).
  • Ketidakpastian Kerja: Sebagian ingin pulang, sementara lainnya masih mencoba mencari peruntungan legal di Kamboja.

Runtuhnya Kerajaan ‘Scam’ Usai Deportasi Bos Besar

Eksodus pekerja scam ini disebut-sebut dipicu oleh penangkapan dan deportasi Chen Zi, bos besar sindikat dari Prince Group yang menjadi buruan internasional. Penangkapan Chen Zi dan pemulangannya ke China pada awal Januari menjadi sinyal kuat bahwa Kamboja bukan lagi “surga aman” bagi bisnis kriminal siber.

Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan dramatis di kawasan Kasino Amber, Sihanoukville. Para pekerja nampak meninggalkan kompleks dengan membawa koper hingga peralatan komputer. “Kamboja sudah bergejolak, tidak aman lagi bekerja di sini,” ujar salah satu pekerja etnis China kepada kantor berita AFP.

Langkah Darurat KBRI: Penerbitan SPLP Masif

Guna menangani krisis kemanusiaan dan hukum ini, KBRI Phnom Penh mulai menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) secara massal bagi WNI yang ingin kembali ke tanah air. Koordinasi intensif juga dilakukan dengan imigrasi Kamboja untuk mendapatkan keringanan denda overstay serta percepatan izin keluar (exit permit).

“Kami melakukan asesmen ketat. Bagi yang sakit, langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan. Kami juga mengimbau agar WNI waspada terhadap oknum yang mengatasnamakan KBRI untuk melakukan penipuan di tengah situasi genting ini,” pungkas pihak KBRI.

Operasi pembersihan ini menandai babak baru kerja sama penegakan hukum antara Kamboja dan negara-negara terdampak, termasuk Indonesia dan China, dalam memberantas kejahatan siber transnasional yang telah merugikan ribuan korban di Asia Tenggara.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *