KALBARAYA, CILEGON – Kabut duka menyelimuti kediaman Maman Suherman, politisi PKS di Kota Cilegon. Dalam sebuah pertemuan dengan awak media pada Rabu (7/1/2026), Maman membeberkan kronologi mencekam saat dirinya menemukan putra bungsunya, Muhamad Axle Harman Miller (9), tewas dalam kondisi mengenaskan akibat pembunuhan.
Peristiwa yang terjadi pada pertengahan Desember lalu ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga, terutama setelah terungkap bahwa motif di balik aksi keji tersebut adalah masalah ekonomi pelaku.
Awalnya Dikira Terjatuh dari Tangga Tragedi ini bermula pada Selasa (16/12) siang, saat Maman masih berada di kantor. Ia dikejutkan oleh panggilan video dari anak sulungnya, Dafara (11), yang berteriak histeris melihat adiknya bersimbah darah di lantai dua rumah mereka di Perumahan BBS 3, Ciwaduk.
“Pikiran saya saat itu Axle jatuh dari tangga. Saya langsung kalut, ambil kunci mobil dan memacu kendaraan secepat mungkin ke rumah. Hanya butuh waktu 4 menit sampai saya tiba di gerbang,” kenang Maman dengan suara bergetar.
Maman bergegas menuju tempat favorit anaknya melakukan ibadah di lantai atas. Di sana, ia menemukan Axle dalam posisi tertelungkup di depan lemari tempat salat dengan luka parah. “Saya bopong dia ke mobil, kepalanya saya pangku di pangkuan kakaknya untuk segera dibawa ke RS Bethsaida,” imbuhnya.
Fakta Menyakitkan di Tengah Perjalanan Kecurigaan bahwa Axle bukan korban kecelakaan jatuh mulai muncul saat perjalanan menuju rumah sakit. Sang kakak memberitahu Maman adanya bekas luka sayatan benda tajam di tubuh korban. Begitu tiba di rumah sakit, tim medis menyatakan bahwa nyawa bocah sembilan tahun tersebut sudah tidak tertolong.
“Dunia seolah runtuh. Saya histeris, rasa pedih, stres, dan panik bercampur aduk saat rumah sakit mengatakan anak saya sudah tidak ada,” tutur Maman.
Motif Pelaku: Terjerat Kerugian Kripto Miliaran Rupiah
Pihak Polda Banten telah berhasil meringkus tersangka berinisial HA (31), seorang operator produksi di sebuah perusahaan swasta. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten, Kombes Pol Dian Setiawan, mengungkapkan bahwa motif HA murni karena tekanan ekonomi yang ekstrem.
Berdasarkan penyelidikan, HA awalnya sukses memutar tabungannya sebesar Rp400 juta di instrumen saham kripto hingga meraih keuntungan fantastis mencapai Rp4 miliar. Namun, akibat ambisi yang tidak terkontrol, seluruh aset tersebut ludes tak tersisa.
“Tersangka kalah dalam permainan saham kripto hingga kehilangan seluruh modal dan keuntungannya. Tekanan psikologis akibat kekalahan itulah yang melatarbelakangi aksi nekatnya melakukan kejahatan,” jelas Kombes Pol Dian.
Tuntutan Keadilan dan Hukuman Mati Atas tindakan biadab tersebut, Maman Suherman selaku orang tua korban mendesak agar penegak hukum menjatuhkan sanksi maksimal kepada tersangka HA.
“Saya minta hukum seberat-beratnya. Jika dalam KUHP memungkinkan hukuman mati, maka itulah keadilan yang saya tuntut untuk nyawa anak saya,” tegas Maman.
