Cerita Brimob Gendong Siswa SD Menerjang Sungai untuk Sekolah Gara-Gara Jembatan Rusak Dihantam Banjir . Istimewa

KALBARAYA, GORONTALO – Putusnya jembatan gantung di Desa Molalahu, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, akibat terjangan banjir tak menyurutkan semangat para siswa untuk menuntut ilmu. Demi memastikan keselamatan anak-anak sekolah, sejumlah personel Brimob Polda Gorontalo turun tangan membantu menyeberangkan para siswa dengan cara menggendong mereka menerjang aliran sungai, Rabu (14/1/2026).

Langkah sigap ini diambil setelah otoritas kepolisian menerima laporan mengenai rusaknya infrastruktur penghubung utama menuju SDN 16 Pulubala tersebut.

“Personel sudah bersiaga di lokasi sejak pukul 06.00 WITA. Kami langsung bergerak memberikan bantuan fisik agar para siswa bisa mencapai sekolah dengan aman,” ujar Plh Kabag Ops Brimob Polda Gorontalo, Ruslan Djafar, Kamis (15/1/2026).

Cegah Risiko Hanyut di Aliran Deras

Kondisi debit air sungai pada pagi hari dilaporkan cukup tinggi dan dinilai berbahaya bagi anak-anak, terutama siswa kelas satu dan dua yang belum memiliki kemampuan fisik kuat untuk melawan arus.

Ruslan menjelaskan bahwa kehadiran personel di lapangan bertujuan untuk meminimalisir risiko warga atau siswa yang bisa saja terseret arus sungai yang fluktuatif pascabanjir.

“Aliran sungai cukup dalam untuk anak-anak sekolah. Tanpa pengawasan ketat dan bantuan fisik, risikonya sangat besar. Kami di sini untuk memastikan tidak ada korban jiwa akibat infrastruktur yang terputus,” tambahnya.

Apresiasi dan Kebijakan Khusus Sekolah

Bantuan dari Korps Baret Biru ini mendapat apresiasi mendalam dari pihak sekolah. Nur Naningsih Yasin, salah satu guru di SDN 16 Pulubala, menyebutkan terdapat sekitar 20 siswa yang tinggal di Dusun Mohuhulo—wilayah yang terisolasi akibat jembatan rusak.

“Kami sangat berterima kasih kepada jajaran Brimob. Kehadiran mereka sangat berarti bagi keamanan anak didik kami yang harus menyeberang sungai dari Dusun Mohuhulo,” ungkap Nur Naningsih.

Terkait kendala akses ini, pihak sekolah memberikan kebijakan khusus:

  • Kompensasi Keterlambatan: Sekolah memaklumi jika siswa datang terlambat karena kendala geografis.
  • Izin Khusus: Siswa diberikan kelonggaran jika terpaksa tidak masuk sekolah apabila cuaca buruk dan debit air meningkat tajam.
  • Imbauan Orang Tua: Pihak guru meminta agar orang tua tetap mendampingi anak-anak saat berangkat menuju titik penyeberangan.

Hingga berita ini diturunkan, jembatan gantung tersebut masih belum dapat dilalui, dan warga berharap adanya perbaikan segera dari pemerintah daerah guna memulihkan mobilitas masyarakat desa.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *