KALBARAYA – Instrumen investasi emas menutup kalender 2025 dengan catatan performa yang fenomenal. Sepanjang tahun, komoditas logam mulia ini berhasil memecahkan rekor harga tertinggi (XAU/USD) sebanyak 50 kali. Kenaikan tahunan sebesar 64 persen tersebut menjadi capaian terbaik emas sejak periode akhir 1970-an.
Sempat menyentuh level spot tertinggi di angka USD 4.549,71 per ons pada momentum Boxing Day, harga emas kini cenderung stabil di kisaran USD 4.300 hingga USD 4.310 menjelang pembukaan tahun 2026.
Perubahan Struktural dan Regulasi Basel III Loncatan harga emas tahun ini tidak hanya dipicu oleh spekulasi pasar, melainkan adanya pergeseran fundamental dalam sistem keuangan global. Implementasi standar Basel III menjadi katalis utama, di mana emas fisik kini diakui sebagai aset Tier 1 atau aset likuid kualitas tertinggi dengan nilai agunan penuh 100 persen.
BACA JUGA : Sistem Coretax Alami Kendala Akses, Menkeu Purbaya Yudhi Instruksikan DJP Sederhanakan Prosedur
Kebijakan ini mengubah posisi emas di mata perbankan global, dari semula hanya instrumen lindung nilai (hedging) menjadi agunan inti yang sangat efisien dalam manajemen modal.
Dominasi Bank Sentral dan Geopolitik Dunia Dukungan fundamental emas semakin kokoh seiring agresivitas bank sentral dunia dalam menambah cadangan devisa mereka. Tren akumulasi yang dimulai sejak 2022 terus berlanjut hingga kuartal ketiga 2025, menjadikan level harga di atas USD 4.000 dianggap sebagai titik “normal baru” yang kredibel.
Faktor geopolitik juga memegang peranan krusial:
- Sentimen BRICS: Aliansi negara-negara BRICS mulai menjajaki sistem pembayaran alternatif berbasis emas guna mereduksi dominasi Dolar AS (dedolarisasi).
- Kedaulatan Devisa di Eropa: Jerman dan Italia memegang total 5.800 ton emas. Muncul desakan politik kuat di Jerman untuk memulangkan 1.200 ton emas mereka yang saat ini masih tersimpan di Federal Reserve New York.
- Ketegangan Perdagangan: Kebijakan tarif Amerika Serikat memicu ketidakpastian mata uang, mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset safe haven.
Tantangan Sisi Pasokan dan Operasi Tambang Di saat permintaan melonjak, sektor hulu justru menghadapi gangguan produksi. Di Mali, konflik antara perusahaan tambang Barrick dengan pemerintah setempat berujung pada penyitaan aset senilai USD 117 juta. Situasi serupa terjadi di Burkina Faso, di mana meningkatnya tuntutan kepemilikan negara menciptakan risiko fiskal yang memicu premi kelangkaan emas fisik di pasar global.
Proyeksi 2026: Menuju Level Psikologis USD 4.800 Secara teknikal, emas saat ini berada dalam fase konsolidasi sehat. Meski terjadi koreksi tipis akibat minimnya likuiditas libur akhir tahun, struktur grafik mingguan menunjukkan dukungan kuat di area USD 4.000.
Analis memprediksi emas berpeluang menembus angka USD 4.800 per ons pada pertengahan 2026, dengan catatan harga mampu melewati zona resistensi di kisaran USD 4.500–4.550. Namun, investor tetap disarankan memantau kebijakan The Fed, mengingat inflasi global yang masih bertahan di level 3,8 persen tetap membuat emas sensitif terhadap dinamika suku bunga riil.
