KALBARAYA, JAKARTA – Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang kian mendekati level psikologis Rp17.000 memicu kekhawatiran serius bagi stabilitas ekonomi nasional. Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memperingatkan bahwa sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor akan menjadi pihak yang paling terdampak.
Menurut Nailul, pelemahan mata uang Garuda ini bakal memicu fenomena imported inflation atau inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga barang-barang dari luar negeri.
“Industri yang mengandalkan suplai bahan baku impor akan menghadapi lonjakan biaya produksi yang signifikan. Hal ini berujung pada kenaikan harga di tingkat konsumen,” ujar Nailul, Selasa (20/1/2026). Ia mencontohkan harga pangan rakyat seperti tahu dan tempe berisiko melambung karena bahan baku kedelai yang masih didominasi impor.
Sinergi Sentimen Global dan Tekanan Geopolitik
Pelemahan Rupiah ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang kompleks. Nailul menyoroti kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang masih mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga memicu arus modal keluar (capital outflow) kembali ke pasar AS.
Selain kebijakan moneter, eskalasi konflik di Timur Tengah juga memperburuk keadaan. “Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran telah mendongkrak harga minyak mentah dunia. Dalam kondisi ketidakpastian global seperti ini, investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven) seperti emas dan dolar AS,” tambahnya.
Sorotan terhadap Defisit APBN dan Keberlanjutan Fiskal
Tak hanya faktor luar, kondisi internal Indonesia juga menjadi perhatian pasar. Nailul menyoroti postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang menunjukkan pelebaran defisit. Tingginya angka belanja negara yang tidak dibarengi dengan optimalisasi pendapatan negara memunculkan skeptisisme mengenai keberlanjutan fiskal.
“Beban utang yang terus membengkak berpotensi meruntuhkan ketahanan fiskal kita. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, kinerja fiskal untuk pembangunan tidak akan optimal,” pungkas Nailul.
Kondisi Pasar Spot: Perbankan Pasang Kurs di Atas Rp16.900
Tekanan terhadap mata uang domestik terlihat nyata di pasar valuta asing. Hingga perdagangan awal pekan, Rupiah terus melandai dan nyaris menembus angka Rp17.000 per dolar AS.
Berikut adalah perbandingan nilai tukar dolar AS pada sejumlah perbankan nasional per Selasa (20/1):
- Bank Central Asia (BCA): Kurs beli berada di level Rp16.913 dan kurs jual dipatok Rp16.933 per dolar AS.
- Bank Rakyat Indonesia (BRI): Mencatatkan kurs beli Rp16.911 dengan harga jual di kisaran Rp16.938 per dolar AS.
Kenaikan harga valas ini memaksa pelaku industri untuk segera melakukan mitigasi biaya agar margin keuntungan tidak tergerus lebih dalam akibat depresiasi mata uang domestik.
