KALBARAYA, TEHERAN – Puluhan ribu pendukung pemerintah Iran memadati jalan-jalan di ibu kota Teheran pada Senin (12/1/2026). Aksi massa besar-besaran ini digelar sebagai upaya rezim untuk menunjukkan kekuatan di tengah gelombang protes nasional yang telah mengguncang negara tersebut selama hampir dua pekan terakhir.
Demonstrasi yang dipusatkan di Lapangan Enqelab ini mengusung tema perlawanan terhadap intervensi asing. Dalam orasinya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran saat ini sedang dikepung oleh “perang di empat front,” yang mencakup tekanan ekonomi, serangan psikologis, ancaman militer, hingga isu terorisme global.
Ancaman Balasan terhadap AS dan Israel Ghalibaf melontarkan peringatan tajam yang ditujukan langsung kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menyatakan bahwa militer Iran telah bersiap memberikan “pelajaran yang tak terlupakan” apabila Washington nekat melakukan agresi militer.
“Kami tidak akan tinggal diam jika diserang. Ini adalah peringatan bagi musuh-musuh kita,” tegas Ghalibaf di tengah seruan slogan anti-Barat dari para demonstran, sebagaimana dilansir dari The Guardian.
Senada dengan hal tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut aksi massa ini sebagai tamparan bagi ambisi intervensi AS. Khamenei menuduh Washington menggunakan “tentara bayaran yang berkhianat” untuk mengacaukan stabilitas dalam negeri Iran.
Kontradiksi di Lapangan: Klaim Normalisasi vs Laporan Korban Jiwa
Meski pemerintah melalui Menteri Luar Negeri mengklaim situasi dalam negeri telah “sepenuhnya terkendali” di hadapan para diplomat asing, realitas di lapangan menunjukkan gambaran berbeda.
- Protes Malam Hari: Laporan dari media sosial dan aktivis lokal menunjukkan bahwa aksi unjuk rasa anti-pemerintah masih terus berlangsung di beberapa wilayah, terutama di bawah kegelapan malam.
- Pembatasan Internet: Pemutusan akses internet yang dilakukan secara sistematis oleh otoritas setempat membuat verifikasi skala demonstrasi menjadi sangat sulit dilakukan secara real-time.
- Korban Jiwa: LSM kemanusiaan Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia merilis data mengerikan. Setidaknya 648 orang tewas dalam gelombang kerusuhan ini, termasuk sembilan anak-anak, dengan ribuan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Respons Gedung Putih Menanggapi tensi yang kian mendidih, Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Donald Trump tetap membuka opsi diplomasi, namun tidak ragu untuk menggunakan kekuatan militer jika situasi semakin memburuk, terutama terkait keselamatan para demonstran.
Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau perkembangan di Iran, yang disebut-sebut sebagai gejolak politik terbesar di negara tersebut sejak tahun 2009.
