KALBARAYA, PARIS – Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi kabar duka atas gugurnya seorang prajurit penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) asal Prancis akibat serangan di Lebanon pekan lalu. Dalam pernyataannya, Macron melayangkan tudingan keras kepada kelompok Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden mematikan tersebut.

Prajurit yang wafat diidentifikasi sebagai Kopral Kepala Anicet Girardin. Ia mengembuskan napas terakhir pada Selasa (21/4/2026) setelah sebelumnya sempat dievakuasi ke Prancis akibat luka parah yang diderita dalam serangan pada 18 April lalu.

Insiden Kedua dalam Misi UNIFIL

Kematian Girardin menambah daftar panjang korban dari kontingen Prancis di Lebanon selatan. Sebelumnya, seorang rekan sejawatnya telah dinyatakan tewas di lokasi kejadian saat tengah menjalankan tugas pembersihan jalur. Keduanya merupakan bagian dari misi perdamaian PBB yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah konflik tersebut.

Pihak UNIFIL dalam penilaian awalnya mensinyalir bahwa serangan tersebut merupakan aksi yang disengaja. Berdasarkan identifikasi sementara, tembakan diduga kuat berasal dari aktor non-negara, yang merujuk pada milisi Hizbullah. Saat ini, penyelidikan formal telah dibuka untuk mengungkap detail kejadian secara menyeluruh.

Hizbullah Bantah Keterlibatan, PM Lebanon Janji Tindak Tegas

Di sisi lain, kelompok Hizbullah membantah keras tudingan Paris. Mereka menyatakan keberatan atas klaim yang dianggap prematur dan tidak berdasar tersebut.

Menanggapi situasi ini, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, yang sedang melakukan kunjungan kerja di Paris, menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini.

“Kami telah memerintahkan kepolisian dan otoritas terkait untuk melakukan investigasi mendalam. Siapa pun yang terbukti bertanggung jawab akan kami bawa ke hadapan hukum,” ujar Salam sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (23/4/2026).

Konteks Geopolitik dan Sejarah Militer Prancis

Keterlibatan militer Prancis di Lebanon memiliki akar sejarah yang panjang. Hingga saat ini, Prancis menempatkan sekitar 700 personel sebagai bagian dari unit UNIFIL. Namun, eskalasi di Timur Tengah kian meningkat sejak pecahnya konflik terbuka antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu.

Tewasnya Girardin menjadi korban ketiga dari militer Prancis di kawasan tersebut dalam kurun waktu singkat. Sebelumnya, satu personel lainnya gugur di Irak Utara akibat serangan drone yang menyasar pangkalan gabungan Prancis-Kurdi. Catatan sejarah menunjukkan, sejak tahun 1978, lebih dari 160 tentara Prancis telah gugur selama menjalankan misi di tanah Lebanon.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *