KALBARAYA, SOLO – Kediaman pribadi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di kawasan Sumber, Solo, menjadi saksi pertemuan penuh haru pada Kamis (8/1/2026) petang. Jokowi menerima kunjungan silaturahmi dari dua tokoh yang selama ini terlibat dalam dinamika hukum laporan ijazah palsu, yakni Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis.
Pertemuan tertutup yang berlangsung di Jalan Kutai Utara tersebut turut didampingi oleh pengacara Elida Netty serta jajaran pimpinan Relawan Jokowi (ReJo) Prabowo-Gibran, Darmizal dan Muhammad Rahmad.
Pelukan Erat dan Suasana Penuh Keakraban Sekjen ReJo, Muhammad Rahmad, yang hadir dalam pertemuan itu menceritakan suasana emosional yang terjadi di dalam kediaman mantan Wali Kota Solo tersebut. Menurutnya, pertemuan diawali dengan sambutan hangat dari Jokowi yang kemudian disusul dengan momen saling berangkulan.
“Saya menyaksikan langsung bagaimana Pak Eggy Sudjana dan Pak Damai Hari Lubis berpelukan sangat erat dengan Pak Jokowi. Momen itu begitu mengharukan hingga kami yang melihatnya pun ikut berkaca-kaca,” ungkap Rahmad saat dikonfirmasi pada Jumat (9/1/2026).
Meskipun momen tersebut tidak didokumentasikan karena sifat pertemuan yang sangat terbatas, Rahmad memastikan bahwa dialog berjalan dengan sangat baik dan dalam semangat kekeluargaan.
Hadiah Buku dan Doa Keselamatan
Silaturahmi ini sebenarnya telah dirancang sejak pertengahan Desember 2025. Rahmad mengungkapkan bahwa saat dirinya berkunjung ke rumah Eggy Sudjana beberapa waktu lalu, Ketua TPUA tersebut telah menitipkan sebuah buku sebagai hadiah khusus untuk Jokowi.
Puncak pertemuan ditandai dengan momen religius di mana Eggy Sudjana didaulat memimpin doa penutup. “Pak Eggy memimpin doa untuk keselamatan serta kesehatan Pak Jokowi dan keluarga. Beliau mendoakan agar Bapak selalu dalam lindungan Allah SWT,” tambah Rahmad.
Teladan Komunikasi Nasional Ajudan Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah, mengonfirmasi kebenaran pertemuan tersebut. Pihak ReJo menilai langkah ini sebagai bentuk “pertemuan patriotik” yang menunjukkan kedewasaan dalam bernegara.
Rahmad berharap gestur rekonsiliatif ini menjadi simbol penting bagi persatuan nasional. Di tengah dinamika politik dan hukum yang pernah memanas, komunikasi langsung antarfigur publik dianggap sebagai kunci untuk mendinginkan suasana dan menjaga keutuhan bangsa.
“Semoga ini menjadi berkah bagi kesatuan bangsa ke depan. Ini adalah suri teladan bahwa perbedaan pandangan tidak harus memutus tali silaturahmi,” pungkasnya.
