KALBARAYA – Provinsi Hubei, yang dikenal sebagai salah satu episentrum industri, otomotif, dan teknologi terbesar di China, baru saja diterjang fenomena tornado yang sangat langka. Para ilmuwan mengaitkan lonjakan frekuensi bencana alam di negeri tirai bambu ini dengan dampak nyata perubahan iklim global.
Pakar dari Biro Meteorologi setempat, Wang Xiaoling, mengonfirmasi bahwa pusaran angin besar ini sangat jarang terjadi di Hubei, di mana peristiwa serupa terakhir kali tercatat pada Mei 2021 silam.
Dampak Kerusakan dan Ancaman Bencana Susulan
Perubahan iklim membuat China kian rentan terhadap amukan cuaca, mulai dari gelombang panas hingga badai besar yang memicu kerugian ekonomi bernilai puluhan miliar dolar AS. Kerusakan tidak hanya melumpuhkan sektor manufaktur, tetapi juga menghancurkan sektor agraris.
Berdasarkan laporan meteorologi, situasi terkini di lapangan meliputi:
- Kerusakan Infrastruktur: Tornado merusak fasilitas publik, jalanan, kendaraan, hingga jaringan penerangan kota di Hubei.
- Siaga Hujan Lebat: Wilayah timur laut Hubei diprediksi masih akan diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
- Potensi Longsor di Wilayah Lain: Wilayah seperti Guangdong, Hainan, Jilin, Shandong, Liaoning, dan Guangxi juga masuk dalam zona waspada. Khusus Guangxi, curah hujan diperkirakan menembus 260 mm dalam sehari.
Situasi Korban Jiwa: Di Guangxi, terjangan Topan Maysak dilaporkan telah merenggut sedikitnya empat nyawa di kota Nanning. Sementara itu, bencana tanah longsor di kawasan pegunungan Provinsi Gansu menyebabkan 16 orang hilang dan puluhan lainnya terdampak. Merespons krisis ini, Presiden Xi Jinping menginstruksikan jajarannya untuk mengerahkan operasi penyelamatan secara total.
Ancaman Baru: Topan Super Bavi Mengintai Taiwan dan China
Belum usai penanganan banjir, otoritas kini bersiap menghadapi ancaman baru dari Topan Super Bavi yang tengah bergerak dari Samudra Pasifik. Badai raksasa ini sebelumnya sempat menghantam wilayah Guam dengan kecepatan angin ekstrem mencapai 289 km/jam.