KALBARAYA, WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat membuka peluang bagi Iran untuk mengakses dana rekonstruksi ekonomi bernilai fantastis, yakni 300 miliar dolar AS atau setara dengan Rp5 kuadriliun. Namun, Washington menegaskan kucuran dana tersebut hanya bisa dicairkan jika Teheran berkomitmen penuh menghentikan program nuklirnya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menyusul beredarnya laporan mengenai rencana pemulihan ekonomi Iran pasca-kesepakatan damai.
Vance menjelaskan bahwa anggaran jumbo tersebut nantinya tidak dibiayai langsung oleh AS, melainkan bersumber dari investasi investasi negara-negara koalisi Teluk.
“Dana tersebut merupakan hal yang dapat mereka akses, dengan didanai oleh koalisi Teluk, sepanjang mereka mematuhi kewajibannya,” ujar Vance dalam wawancara bersama CBS News, dikutip Selasa (30/6/2026).
Syarat Ketat dari Washington
Guna merealisasikan investasi dari kawasan Teluk tersebut, AS menetapkan sejumlah syarat mutlak bagi pemerintah Iran. Syarat utama tersebut berfokus pada transparansi total dan pembersihan material yang berkaitan dengan persenjataan nuklir.
Ada tiga poin krusial yang disyaratkan oleh AS kepada Teheran:
- Menghentikan seluruh program pengembangan nuklir.
- Memusnahkan pasokan uranium yang telah diperkaya (enriched uranium).
- Membuka akses penuh bagi pengawasan dan inspeksi internasional guna memastikan Iran tidak akan pernah memproduksi senjata pemusnah massal.
Iran Klaim AS Terikat Komitmen
Sebelumnya, dinamika ini mencuat setelah kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, merilis laporan terkait adanya nota kesepahaman (MoU) perdamaian antara Teheran dan Washington. Dalam dokumen tersebut, pihak Iran mengeklaim bahwa AS beserta sekutunya memiliki kewajiban untuk menjamin pemulihan ekonomi mereka minimal sebesar 300 miliar dolar AS.
Klaim sepihak ini sempat memicu tanda tanya global terkait mekanisme pembiayaan. Melalui klarifikasinya, AS menegaskan tidak keberatan dengan kerja sama ekonomi antara negara Teluk dan Iran, asalkan mekanisme pengawasan internasional terhadap nuklir Iran berjalan tanpa celah.