Isitmewa

KALBARAYA, WASHINGTON D.C. – Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan aksi ofensif ke wilayah Iran selatan pada Kamis (28/5) dini hari waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah rapuhnya proses negosiasi damai yang tengah dijajaki oleh Washington dan Tehran.

Media lokal Iran melaporkan setidaknya terdengar tiga dentuman ledakan keras di kota pelabuhan strategis, Bandar Abbas. Serangan udara ini diluncurkan hanya berselang beberapa hari setelah militer AS melakukan operasi serupa di wilayah yang sama.

Seorang pejabat militer AS yang enggan disebutkan identitasnya mengonfirmasi bahwa pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) berhasil melumpuhkan empat pesawat nirawak (drone) milik Iran di sekitar kawasan Selat Hormuz.

“Pasukan kami menembak jatuh empat drone serang satu arah (one-way attack drone) asal Iran yang dinilai memberikan ancaman langsung di perimeter Selat Hormuz,” ujar pejabat tersebut kepada AFP.

Selain intersepsi di udara, pasukan AS juga menghancurkan sebuah stasiun kendali darat (ground control station) di Bandar Abbas yang disinyalir tengah bersiap meluncurkan drone kelima.

Gedung Putih Layangkan Ancaman Keras

Operasi militer terbaru ini menyusul pernyataan bernada ancaman yang dilontarkan Presiden AS, Donald Trump, dalam rapat kabinet di Gedung Putih bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Trump mendesak Iran untuk segera menyepakati klausul perdamaian yang diajukan negaranya.

“Iran sebenarnya ingin membuat kesepakatan, namun sejauh ini mereka belum mencapainya. Kami belum puas dengan progres tersebut, tetapi kita akan sampai ke sana. Jika tidak, kami terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan ini sekaligus,” tegas Trump di Ruang Kabinet, Washington.

Lebih lanjut, Trump juga menolak keras wacana terkait kemungkinan Iran dan Oman untuk memegang kontrol penuh atas jalur maritim Selat Hormuz.

“Selat tersebut harus tetap terbuka untuk navigasi internasional. Itu adalah perairan internasional, dan Oman harus bertindak selayaknya pihak lain, atau kami terpaksa mengambil tindakan tegas (meledakkan mereka). Mereka memahami konsekuensi itu dan situasi akan baik-baik saja,” tambah Trump.

Pernyataan keras tersebut langsung memicu sorotan pengamat geopolitik, mengingat Oman selama ini memegang peran krusial sebagai mediator utama dalam menjembatani komunikasi diplomatik antara Iran dan AS.

Respon Garda Revolusi Iran

Merespons eskalasi di Selat Hormuz, perwakilan korps militer elit Iran angkat bicara. Pejabat Garda Revolusi Iran (IRGC), Mohammad Akbarzadeh, menyatakan bahwa pihaknya menilai potensi pecahnya perang terbuka berskala besar masih relatif rendah. Kendati demikian, seluruh lini militer Tehran kini berada dalam status siaga satu.

“Potensi meletusnya perang sebenarnya rendah karena adanya titik kelemahan di sisi musuh. Namun, kekuatan militer kami tetap dalam kondisi siaga penuh dengan kesiapan logistik dan amunisi yang lengkap,” ujar Akbarzadeh sebagaimana dikutip oleh kantor berita Tasnim.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *