KALBARAYA, JAKARTA – Sekretariat Jenderal (Setjen) MPR RI angkat bicara terkait viralnya potongan video babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat di media sosial. Video tersebut memicu polemik netizen setelah dewan juri kedapatan memberikan poin berbeda untuk jawaban yang identik dari dua peserta yang berbeda.
Menanggapi hal tersebut, Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan penelusuran internal secara mendalam. Ia menjamin bahwa integritas dan objektivitas harus menjadi fondasi utama dalam kompetisi ini.
“Kami sedang menelusuri secara internal terkait mekanisme penilaian pada salah satu sesi lomba yang ramai dibicarakan di media sosial. Prinsip sportivitas dan keadilan adalah hal yang mutlak dalam LCC Empat Pilar,” ujar Siti Fauziah dalam keterangan resminya, Senin (11/5).
Audit Teknis dan Transparansi Penilaian
Sebagai langkah tindak lanjut, MPR RI berkomitmen melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh aspek teknis perlombaan. Evaluasi ini mencakup:
- Mekanisme Verifikasi: Standarisasi jawaban dan ketajaman penilaian juri.
- Sistem Komunikasi: Kejelasan artikulasi suara peserta saat menjawab.
- Manajemen Komplain: Tata kelola pengajuan keberatan atau banding selama perlombaan berlangsung.
“Masukan dari masyarakat menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kami. Ini penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap proses edukasi kebangsaan yang kita bangun agar tetap berintegritas dan inklusif,” tambah Siti.
Pimpinan MPR Akui Adanya Kelalaian
Senada dengan Setjen, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Ia menyayangkan adanya insiden yang mencederai jalannya kompetisi di Kalimantan Barat tersebut.
“Atas nama pimpinan, kami memohon maaf atas kelalaian yang dilakukan dewan juri. Kami pastikan kejadian ini akan ditindaklanjuti secara serius,” tegas Akbar Supratman kepada awak media, Senin (11/5).
Soroti Masalah Klasik dan Teknis Lapangan
Akbar menilai insiden ini kemungkinan besar dipicu oleh kendala teknis lapangan, seperti kualitas tata suara (sound system) yang tidak maksimal sehingga memengaruhi pendengaran juri, serta belum optimalnya mekanisme banding di lokasi.
Ia juga mengungkapkan bahwa keluhan serupa dikabarkan pernah terjadi pada tahun lalu di provinsi lain, sehingga evaluasi menyeluruh menjadi harga mati agar tidak menjadi pola berulang.
“Saya melihat ajang LCC ini butuh perbaikan sistemik. Evaluasi total harus dilakukan agar ke depan tidak ada lagi peserta yang dirugikan oleh kesalahan teknis maupun kelalaian manusiawi. Transparansi harus dikedepankan,” pungkasnya.
Hingga saat ini, MPR RI masih merumuskan langkah konkret untuk memperbaiki hasil penilaian di Kalimantan Barat guna menjamin keadilan bagi seluruh sekolah yang bertanding.