KALBARAYA, WASHINGTON D.C. – Pentagon resmi merilis laporan mengenai jatuhnya korban di pihak militer Amerika Serikat dalam eskalasi konflik di Iran. Juru bicara utama Departemen Pertahanan AS, Sean Parnell, mengonfirmasi bahwa sebanyak 140 prajurit AS mengalami luka-luka sejak dimulainya misi militer besar-besaran di wilayah tersebut.
Parnell menjelaskan bahwa jumlah korban ini terakumulasi selama 10 hari pelaksanaan operasi yang diberi sandi “Operasi Epic Fury”. Operasi ini merupakan serangan terintegrasi yang diluncurkan oleh aliansi AS dan Israel terhadap target-target di Iran sejak 28 Februari lalu.
Kondisi Pasukan dan Intensitas Serangan
Dari total korban luka yang dilaporkan, delapan prajurit di antaranya berada dalam kondisi kritis dan tengah menjalani perawatan intensif. Hingga saat ini, pihak Pentagon belum merinci secara spesifik kategori cedera yang dialami, termasuk kemungkinan adanya cedera otak traumatis (traumatic brain injury) yang kerap dipicu oleh dentuman ledakan di medan tempur.
Di sisi lain, Teheran merespons agresi tersebut dengan melancarkan gelombang serangan balasan yang agresif. Setidaknya 27 basis militer AS di kawasan Teluk menjadi sasaran roket dan drone Iran. Serangan balasan ini juga menyasar infrastruktur strategis, mulai dari fasilitas minyak, bandara, hingga misi diplomatik.
Dinamika Strategi dan Ultimatum Donald Trump
Meski jumlah korban luka terus bertambah, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, memberikan penilaian bahwa ketahanan militer Iran tidak melampaui prediksi strategi awal mereka.
“Mereka memang memberikan perlawanan dan kami menghormati itu, namun mereka tidak lebih tangguh dari kalkulasi awal kami,” tegas Caine dalam pengarahan resmi di Pentagon, Selasa (10/3/2026).
Sementara itu, tensi diplomatik semakin meruncing setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras terkait keamanan jalur maritim global. Trump menegaskan jika Iran terbukti menyebar ranjau di Selat Hormuz, maka pembersihan harus segera dilakukan atau Iran akan menghadapi konsekuensi militer berskala besar.
Respons Keras Teheran: Tolak Gencatan Senjata
Dari pihak Teheran, tawaran untuk melakukan gencatan senjata ditolak mentah-mentah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf. Senada dengan hal tersebut, pejabat senior keamanan Iran, Ali Larijani, melalui platform media sosialnya menegaskan bahwa pihaknya tidak gentar terhadap ancaman militer AS.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa hari Selasa akan menjadi periode dengan intensitas gempuran udara tertinggi dari pihak AS ke wilayah Iran. Situasi ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih jauh dari meja perundingan dan lebih memilih jalan konfrontasi langsung.
