KALBARAYA, TEHERAN – Republik Islam Iran resmi menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Tokoh sentral Iran tersebut dilaporkan gugur setelah serangan udara masif yang dilancarkan oleh aliansi militer Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah titik strategis di ibu kota Teheran.
Berdasarkan konfirmasi dari media pemerintah setempat, Ali Khamenei mengembuskan napas terakhirnya di dalam kantor kepresidenan saat operasi militer berlangsung pada Sabtu (28/2/2026). Peristiwa ini menandai eskalasi konflik paling dramatis di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.

Negara dalam Status Libur Nasional Sepekan
Sebagai bentuk penghormatan terakhir dan merespons situasi darurat nasional, Pemerintah Iran mengumumkan penghentian seluruh aktivitas kerja dan pelayanan publik selama satu pekan ke depan. Bendera setengah tiang mulai dikibarkan di seantero negeri sebagai simbol duka mendalam bagi jutaan warga Iran.
Operasi militer yang menargetkan pusat-pusat komando di Teheran tersebut dilaporkan masih menyisakan ketegangan hingga Minggu (1/3/2026). Sejumlah analis internasional memprediksi hilangnya sosok Khamenei akan memicu guncangan besar pada stabilitas politik dalam negeri Iran serta mengubah peta geopolitik kawasan secara signifikan.
Masa Depan Kepemimpinan Iran
Wafatnya sang Pemimpin Tertinggi di tengah kecamuk perang menimbulkan tanda tanya besar mengenai suksesi kepemimpinan di Teheran. Hingga saat ini, Dewan Garda Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah strategis berikutnya terkait penunjukan pemimpin baru di tengah situasi keamanan yang masih belum stabil.
