Foto: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menghadiri upacara untuk memperingati Asyura, hari paling suci dalam kalender Muslim Syiah, di Teheran, Iran, 5 Juli 2025. (via REUTERS/Office of the Iranian Supreme Le)

KALBARAYA, TEHERAN – Republik Islam Iran kini berada di persimpangan jalan sejarah setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Menanggapi situasi darurat tersebut, sebanyak 88 anggota Majelis Ahli (Assembly of Experts) dijadwalkan segera bersidang untuk menentukan sosok pengganti demi menjaga stabilitas nasional, Minggu (1/3/2026).

Laporan dari Al-Jazeera menyebutkan bahwa otoritas tertinggi di Teheran kini tengah menimbang dua skenario transisi kekuasaan yang krusial.

Dua Skenario Transisi Kekuasaan

Majelis Ahli, lembaga yang memiliki wewenang konstitusional untuk menunjuk Pemimpin Tertinggi, kini dihadapkan pada dua opsi utama:

  1. Penunjukan Kandidat Rahasia: Sebelum wafat, mendiang Khamenei dilaporkan telah menyerahkan daftar berisi empat nama calon potensial kepada komite khusus. Meski identitas para kandidat masih dirahasiakan, Majelis Ahli akan memverifikasi kesesuaian mereka dengan prinsip revolusi Islam.
  2. Pembentukan Dewan Transisi: Jika kesepakatan satu nama belum tercapai, skenario kedua adalah pembentukan dewan pemerintahan sementara yang beranggotakan empat tokoh ulama senior. Dewan ini akan menjalankan roda pemerintahan hingga pemimpin definitif terpilih.

Sebagaimana dilaporkan Reuters beberapa waktu lalu, Khamenei memang telah menginstruksikan komite ulama untuk mempercepat perencanaan suksesi guna mengantisipasi kemungkinan terburuk di tengah eskalasi konflik dengan Israel.

Mojtaba Khamenei dan Hassan Khomeini Masuk Bursa Kandidat

Meski belum ada keputusan final, desas-desus internal menyebutkan dua nama kuat mulai mencuat dalam lingkaran elite penguasa. Mereka adalah Mojtaba Khamenei, putra kandung mendiang Ali Khamenei, serta Hassan Khomeini, cucu dari pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Kriteria utama dalam seleksi ini tetap berpegang pada kesetiaan mutlak terhadap prinsip Wilayat al-Faqih dan nilai-nilai revolusi 1979. Namun, sumber internal menekankan bahwa daftar ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung konsensus para ulama senior.

Duka Nasional di Bulan Suci

Kematian Ali Khamenei telah dikonfirmasi oleh berbagai media resmi pemerintah seperti Tasnim, Fars, dan televisi nasional IRINN. Melalui pengumuman yang disiarkan pada pukul 05.00 waktu setempat, pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

“Pemimpin besar umat Islam telah berpulang secara syahid di bulan suci Ramadan akibat agresi kriminal Zionis dan Amerika Serikat,” ujar presenter televisi pemerintah dalam siaran emosionalnya.

Pantauan di Teheran menunjukkan warga mulai berkumpul di pusat-pusat kota dengan suasana duka yang mendalam. Elite penguasa kini berpacu dengan waktu untuk segera menunjuk pemimpin baru guna menegaskan kesinambungan kekuasaan dan mencegah kekosongan politik yang dapat memicu ketidakstabilan lebih lanjut.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *