KALBARAYA, YERUSALEM – Ketegangan di Yerusalem Timur kembali meningkat menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan. Otoritas Israel secara resmi menjatuhkan larangan masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa terhadap Sheikh Muhammad Ali Abbasi, salah satu imam besar di situs suci tersebut.
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Pemerintah Provinsi Yerusalem melalui Anadolu Agency, Sheikh Abbasi sempat ditahan oleh aparat keamanan Israel sebelum akhirnya diputuskan dilarang menginjakkan kaki di area Al-Aqsa selama satu minggu ke depan.
Tanpa Alasan Jelas di Tengah Eskalasi
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian maupun pemerintah Israel belum memberikan keterangan resmi terkait alasan penahanan dan sanksi pelarangan terhadap sang imam.
Langkah represif ini terjadi di tengah situasi keamanan yang kian memanas di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Dalam beberapa pekan terakhir, akses bagi jemaah muslim yang ingin beribadah di Al-Aqsa semakin diperketat, dibarengi dengan meningkatnya intensitas patroli dan intervensi keamanan di area yang kerap menjadi titik sumbu konflik tersebut.
Signifikansi Situs dan Status Hukum
Masjid Al-Aqsa memegang peran krusial dalam peta geopolitik dan religi dunia:
- Bagi Umat Islam: Merupakan situs tersuci ketiga setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
- Bagi Umat Yahudi: Mengenal kawasan tersebut sebagai Temple Mount (Bukit Bait Suci) yang diyakini sebagai lokasi berdirinya dua kuil kuno di masa lampau.
Secara historis, Israel mulai menduduki wilayah Yerusalem Timur, termasuk kompleks Al-Aqsa, sejak Perang Arab-Israel tahun 1967. Meski Israel secara sepihak mencaplok seluruh wilayah kota tersebut pada tahun 1980, langkah klaim kedaulatan ini tetap tidak mendapatkan pengakuan dari komunitas internasional hingga saat ini.
Dampak Terhadap Jemaah Ramadan
Pelarangan terhadap tokoh agama senior seperti Sheikh Abbasi dikhawatirkan akan memicu reaksi keras dari warga Palestina, terutama saat umat Muslim bersiap melaksanakan ibadah salat Tarawih dan itikaf di penghujung bulan Syaban ini. Pembatasan akses ke situs suci selama Ramadan sering kali menjadi pemicu bentrokan fisik antara jemaah dan aparat keamanan di Kota Tua Yerusalem.