KALBARAYA, JAKARTA – Lembaga riset National Battery Research Institute (NBRI) asal Indonesia bekerja sama dengan NanoMalaysia Berhad (NMB) resmi mengembangkan inovasi sel energi bernama “Baterai Nusantara”. Kolaborasi lintas negara ini ditujukan untuk mendorong kemandirian energi nasional serta memangkas ketergantungan impor baterai kendaraan listrik.
“Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, namun ironisnya kita masih bergantung pada impor baterai. Baterai Nusantara adalah wujud nyata kolaborasi tingkat kawasan agar kita mampu mengoptimalkan keunggulan sumber daya lokal,” tegas Pendiri NBRI, Prof. Evvy Kartini, di ajang International Battery Summit 2026, JIExpo Kemayoran, Rabu (26/8/2026).
Skema Kerja Sama dan Pembagian Peran
Proyek yang sebelumnya diperkenalkan dalam ajang 4th ASEAN Battery Technology Conference (ABTC) di Sepang, Malaysia, tersebut membagi porsi manufaktur berdasarkan kesiapan teknologi:
- Produksi Katoda (Indonesia): NBRI memasok komponen katoda berbasis nikel olahan dalam negeri yang diteliti dan ditingkatkan kualitasnya di laboratorium Indonesia.
- Perakitan Sel (Malaysia): Proses perakitan (cell assembly) dilakukan di laboratorium pengujian milik NMB Malaysia karena ketersediaan fasilitas pilot cell yang sudah siap operasi.
Tahap Pengembangan dan Target Mandiri
Saat ini Baterai Nusantara masih diproduksi dalam skala percontohan (pilot project) dan belum masuk ke tahap produksi massal bersama produsen kendaraan. Meski demikian, proyek ini menandai langkah penting pergeseran industri—dari yang semula hanya berfokus pada pengolahan tambang nikel mentah menuju pembuatan komponen rantai pasok baterai siap pakai.
Ke depan, NBRI menargetkan pembangunan fasilitas pilot cell sendiri di Tanah Air agar seluruh tahapan, mulai dari pemrosesan bahan baku hingga perakitan akhir, dapat dilakukan secara terintegrasi di dalam negeri.