KALBARAYA, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, menyampaikan duka cita mendalam sekaligus kecaman keras atas insiden penusukan yang menewaskan Ketua DPC Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei. Sahroni mendesak aparat penegak hukum untuk memproses pelaku dengan sanksi terberat guna memberikan efek jera.
“Saya sangat berduka dan mengutuk keras aksi tersebut. Apa pun motif di baliknya, termasuk alasan balas dendam, tindakan merampas nyawa orang lain adalah pelanggaran moral dan hukum yang sangat serius,” ujar Sahroni dalam keterangan resminya, Selasa (21/4/2026).
Dendam Lama Menjadi Pemicu Eksekusi di Bandara
Berdasarkan hasil penyidikan awal, Polres Maluku Tenggara telah mengamankan dua tersangka utama berinisial HR (28) dan FU (36). Keduanya diringkus hanya berselang dua jam setelah aksi penikaman terjadi di pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun, Minggu (19/4/2026).
Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, membeberkan bahwa motif pembunuhan tersebut didasari oleh dendam lama. Para pelaku meyakini bahwa Nus Kei merupakan aktor intelektual di balik tewasnya saudara mereka, Fenansius Wadanubun alias Dani Holat, di Bekasi pada tahun 2020 silam.
“Motif utamanya adalah balas dendam. Para pelaku menganggap korban bertanggung jawab atas peristiwa yang menimpa saudara mereka di Jakarta beberapa tahun lalu,” jelas Kombes Rositah, Senin (20/4/2026).
Kronologi Penyerangan di Pintu Keluar Bandara
Peristiwa berdarah tersebut terjadi pada Minggu siang, sekitar pukul 11.25 WIT. Korban yang baru saja mendarat dari Jakarta langsung disergap oleh para pelaku saat melangkah keluar dari area bandara. Serangan senjata tajam secara mendadak tersebut membuat Nus Kei menderita luka fatal.
Meski sempat dilarikan ke rumah sakit pada pukul 12.00 WIT untuk mendapatkan pertolongan medis darurat, nyawa politisi Golkar tersebut tidak dapat diselamatkan.
Desakan Pengusutan Aktor Intelektual
Ahmad Sahroni meminta kepolisian tidak berhenti pada penangkapan eksekutor di lapangan. Ia mendorong penyidik untuk mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain atau desain konflik tertentu di balik peristiwa ini.
“Saya meminta kepolisian terus mendalami kasus ini secara profesional. Pastikan apakah ini murni dendam personal atau ada instruksi dari pihak lain di belakangnya. Keamanan harus tetap kondusif, jangan biarkan kekerasan menjadi cara penyelesaian masalah,” pungkas Sahroni.