KALBARAYA – Hubungan antara militer Israel dan misi perdamaian internasional berada di titik nadir. Pasukan Israel dilaporkan telah menghancurkan seluruh perangkat kamera pengawas (CCTV) yang mengarah ke markas besar UNIFIL di Naqoura, Lebanon Selatan. Aksi sabotase fasilitas pengawasan ini memicu protes keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menegaskan bahwa perangkat tersebut merupakan elemen vital bagi proteksi personel militer maupun sipil di zona konflik. “Penghancuran ini membahayakan keselamatan tim kami dan menghambat efektivitas operasi penjaga perdamaian,” ujar Ardiel, Sabtu (4/4/2026). PBB berencana melayangkan nota keberatan resmi kepada otoritas Israel atas insiden tersebut.
Duka Mendalam: Delapan Prajurit TNI Jadi Korban di Lebanon
Situasi di perbatasan Lebanon semakin membara seiring meningkatnya frekuensi serangan. Kontingen Indonesia menjadi pihak yang paling terdampak dalam kurun waktu sepekan terakhir. Tercatat, delapan prajurit TNI menjadi korban, dengan rincian tiga personel gugur dan lima lainnya luka-luka akibat rangkaian ledakan di wilayah tugas mereka.
Berikut kronologi insiden yang menimpa Satgas Garuda:
- 29 Maret 2026: Praka (Anumerta) Farizal Rhomadhon gugur akibat hantaman proyektil di Desa Adchit al-Qusayr.
- 30 Maret 2026: Dua prajurit TNI kembali kehilangan nyawa setelah konvoi logistik UNIFIL terkena ledakan di Bani Hayyan.
- 3 April 2026: Tiga prajurit lainnya terluka, dua di antaranya dalam kondisi parah, pasca-ledakan di fasilitas PBB dekat El Adeisse.
Pemerintah Indonesia mengecam keras rentetan serangan ini dan mendesak PBB melakukan investigasi menyeluruh. Jenazah ketiga pahlawan perdamaian tersebut telah tiba di tanah air pada 4 April 2026 dan disambut dengan penghormatan militer tertinggi.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Krisis Kemanusiaan
Meski kesepakatan gencatan senjata telah diteken sejak November 2024, militer Israel terus melakukan operasi darat dan serangan udara di wilayah selatan Lebanon. Agresi ini merupakan respons atas serangan lintas batas yang dimulai pada awal Maret lalu.
Berdasarkan data otoritas Lebanon, eskalasi militer ini telah merenggut sedikitnya 1.422 nyawa dan menyebabkan 4.294 warga sipil luka-luka. Kehadiran UNIFIL, yang berlandaskan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, kini menghadapi tantangan terberat sejak perang tahun 2006 akibat pengabaian protokol keamanan fasilitas internasional oleh pihak bertikai.