KALBARAYA, TRIPOLI – Dunia internasional dikejutkan dengan kabar tewasnya Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang penguasa Libya, Muammar Gaddafi. Pria yang pernah digadang-gadang sebagai penerus takhta Libya tersebut dilaporkan mengembuskan napas terakhir setelah insiden penembakan di kota Zintan, wilayah barat Libya, Selasa (3/2/2026).
Kabar kematian pria berusia 53 tahun ini dikonfirmasi langsung oleh penasihat politiknya, Abdullah Othman. Meski demikian, detail mengenai kronologi dan motif di balik penembakan tersebut masih diselimuti misteri.
Desakan Penyelidikan Internasional
Menanggapi peristiwa tersebut, Khaled al-Mishri, mantan Ketua Dewan Tinggi Negara (HSC) yang berbasis di Tripoli, mendesak adanya investigasi menyeluruh. Lewat pernyataan resminya, Al-Mishri menyerukan dilakukannya penyelidikan yang “mendesak dan transparan” untuk mengungkap pelaku dan latar belakang pembunuhan tokoh kontroversial tersebut.
Selama satu dekade terakhir, Saif al-Islam menjadikan Zintan sebagai tempat bermukim setelah ia dibebaskan dari penjara pada 2017 melalui program pengampunan umum. Sejak saat itu, ia memilih hidup di bawah radar guna menghindari berbagai upaya pembunuhan yang mengancam nyawanya.
Wajah Progresif yang Berujung Buron ICC
Saif al-Islam Gaddafi bukanlah sosok sembarang di Libya. Meski tidak memegang jabatan formal secara struktural, ia dikenal sebagai tangan kanan ayahnya sejak tahun 2000. Lulusan doktor dari London School of Economics (LSE) ini sempat dipandang dunia sebagai wajah modern dan progresif dari rezim Libya yang represif.
Namun, citra tersebut luruh saat pecahnya gelombang Arab Spring pada 2011. Saif al-Islam justru berada di garis depan pembelaan rezim sang ayah. Ia sempat mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi “sungai darah” dan kehancuran Libya jika kekuasaan ayahnya digulingkan.
Perannya dalam penumpasan demonstran membuatnya masuk dalam daftar sanksi PBB dan menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pada 2015, sebuah pengadilan di Tripoli bahkan sempat menjatuhkan vonis mati terhadap dirinya secara in absentia.
Warisan Konflik dan Masa Depan Libya
Kematian Saif al-Islam menandai berakhirnya sisa-sisa pengaruh langsung keluarga Gaddafi di kancah politik Libya yang hingga kini masih terpecah. Ramalannya pada tahun 2011 tentang kehancuran negara dan sulitnya mencapai kesepakatan nasional seolah menjadi kenyataan yang dialami Libya selama lebih dari satu dekade terakhir.
Hingga saat ini, stabilitas di Libya barat, khususnya kota Zintan, dilaporkan terus dipantau secara ketat oleh berbagai faksi keamanan pasca-kematian sang putra mantan pemimpin tersebut.
