KALBARAYA, KAIRO – Pemerintah Mesir melontarkan kritik tajam terhadap intensitas serangan militer Israel yang masih menggempur wilayah Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026). Kairo menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran berulang terhadap komitmen perdamaian yang diprakarsai oleh Amerika Serikat (AS).

Melalui pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Mesir mendesak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk segera menahan diri demi mencegah keruntuhan total upaya diplomasi.

“Mesir mengecam keras pelanggaran yang terus berulang oleh pihak Israel. Kami berharap semua pihak dapat menjaga stabilitas dan menahan diri dari tindakan provokatif,” tulis keterangan resmi Kemenlu Mesir yang dikutip dari AFP.

30 Warga Sipil Dilaporkan Tewas

Protes diplomatik dari Mesir ini muncul menyusul laporan dari Badan Pertahanan Sipil Gaza yang menyatakan sedikitnya 30 orang tewas dalam operasi militer terbaru Israel. Insiden berdarah ini terjadi hanya berselang sehari sebelum jadwal pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah yang direncanakan pada Minggu (1/2/2026).

Sesuai kesepakatan bilateral, pembukaan perbatasan Rafah besok masih bersifat uji coba dengan akses yang sangat terbatas. Jalur tersebut hanya diperuntukkan bagi mobilisasi individu tertentu yang telah memenuhi kriteria, dan belum mencakup pengiriman bantuan kesehatan skala besar.

Rapuhnya Kesepakatan Damai Pasca-Oktober 2025

Sejak kesepakatan damai diteken di bawah mediasi AS pada 13 Oktober 2025, situasi di lapangan tetap jauh dari kata stabil. Kedua belah pihak masih terlibat dalam baku tembak dan saling serang yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Data terkini menunjukkan realitas yang memprihatinkan sejak perdamaian dideklarasikan:

  • Korban di Gaza: Sekitar 500 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel.
  • Korban Israel: Milisi Palestina dilaporkan telah menewaskan 4 personel tentara Israel.

Saling Tuding dan Tekanan dari Washington

Hingga saat ini, pihak Israel maupun milisi Palestina saling melempar tanggung jawab mengenai siapa yang pertama kali merusak kesepakatan gencatan senjata. Kondisi yang kian tidak menentu ini membuat Amerika Serikat kembali mendesak kedua belah pihak untuk segera mengakhiri permusuhan secara permanen.

Washington memperingatkan bahwa tanpa adanya kemauan politik yang kuat dari kedua belah pihak, visi perdamaian jangka panjang yang sedang dirancang akan berakhir sia-sia dan memperpanjang penderitaan warga sipil di zona konflik.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *