KALBARAYA – Gejolak politik di Yaman memasuki babak baru yang semakin kompleks. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengumumkan bahwa Aidaros al-Zubaidi, pemimpin Dewan Transisi Selatan (STC), telah meninggalkan Yaman menuju Uni Emirat Arab (UEA) di tengah tuduhan pengkhianatan terhadap Dewan Kepemimpinan Presiden.
Langkah ini menandai keretakan terdalam antara faksi-faksi yang didukung oleh Riyadh dan Abu Dhabi dalam koalisi anti-Houthi.
Pelarian Rahasia Lewat Jalur Udara dan Laut Berdasarkan rilis resmi koalisi pada Kamis (8/1/2026), Zubaidi disebut melakukan perjalanan rahasia pada tengah malam guna menghindari otoritas keamanan. Mengutip informasi intelijen, koalisi merinci rute pelarian Zubaidi yang bermula dari pelayaran lintas selat dari Aden menuju Berbera, Somaliland.
“Aidaros al-Zubaidi terdeteksi berpindah secara diam-diam. Ia melanjutkan penerbangan dari Somalia menuju bandara militer di Abu Dhabi menggunakan pesawat kargo Rusia,” tulis laporan koalisi sebagaimana dihimpun dari AFP.
Laporan Reuters menambahkan bahwa pesawat yang membawa rombongan Zubaidi sempat mematikan sistem transponder atau identifikasi saat melintasi Teluk Oman. Hal ini diduga sebagai upaya penghindaran dari deteksi radar sebelum akhirnya mendarat di UEA pada Rabu malam.
Riyadh vs Abu Dhabi: Retaknya Aliansi Teluk?
Kepergian Zubaidi secara mendadak ini memicu ketegangan diplomatik antara Arab Saudi dan UEA. Berikut adalah poin-poin krusial yang memperuncing situasi:
- Tuduhan Pengkhianatan: Zubaidi resmi dicopot dari posisinya di pemerintahan Yaman setelah dituding melakukan pembangkangan tingkat tinggi.
- Status “WANTED”: Media pemerintah Saudi, Arab News, secara terbuka merilis foto Zubaidi dengan label buronan, mengindikasikan kemarahan besar pihak Riyadh.
- Klaim Penahanan Delegasi: Di tengah upaya perundingan di Riyadh, pihak STC mengklaim sekitar 50 delegasi mereka ditahan oleh otoritas Saudi, meski Dubes Saudi Mohammed al-Jabir membantahnya dengan mengunggah foto dialog yang diklaim berjalan kondusif.
Konflik Kepentingan di Yaman Selatan Hingga saat ini, baik pemerintah UEA maupun pihak STC belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan pelarian tersebut. Ketegangan ini menjadi sangat krusial karena STC merupakan kekuatan utama di Yaman selatan yang selama ini dipersenjatai dan didukung oleh UEA sejak 2017.
Situasi ini dikhawatirkan akan melemahkan posisi koalisi dalam menghadapi kelompok Houthi yang didukung Iran, serta memperparah krisis kemanusiaan di Yaman yang telah berlangsung sejak intervensi militer dimulai pada tahun 2015.
