potret wilayah banjir bandang di Kecamatan Tukka di Tapanuli Tengah. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

KALBARAYA – Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, mengungkapkan bahwa empat desa dan dua dusun di wilayahnya hingga kini masih dalam kondisi terisolasi pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatra Utara pada akhir November 2025 lalu.

Akses logistik dan transportasi ke wilayah tersebut masih terhambat akibat kerusakan infrastruktur yang parah serta kontur medan yang ekstrem.

“Ada empat desa dan dua dusun yang masih terisolasi. Saat ini kami sedang memetakan titik-titik mana yang harus segera dibuka aksesnya atau apakah perlu dilakukan relokasi bagi warga, mengingat sulitnya medan di sana,” ujar Masinton saat memberikan keterangan di Jakarta, Jumat (26/12/2025).

Wilayah Terdampak dan Opsi Relokasi Menurut Masinton, titik-titik yang masih terisolasi tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya dua desa di Kecamatan Tukka, dua dusun di Sitahuis, serta sejumlah pemukiman di wilayah Lumut dan Sibabangun.

BACA JUGA : Viral Bantuan Udara TNI Disebut Kosong, Letkol Supriyanto: Itu ‘Helibox’, Isinya Terukur

Politikus PDIP tersebut menjelaskan bahwa Pemkab Tapanuli Tengah tengah mempertimbangkan opsi relokasi pemukiman setelah masa tanggap darurat berakhir. Ia menilai, dalam kondisi normal pun, akses menuju desa-desa tersebut sangat riskan karena berada di lereng perbukitan yang curam.

“Pada fase transisi nanti, kami akan menentukan desa mana yang harus direlokasi. Keamanan warga menjadi prioritas karena lokasinya memang sangat berbahaya,” tambahnya.

Sorotan pada Alih Fungsi Lahan Ilegal Selain persoalan akses, Masinton memberikan catatan khusus terhadap dua desa, yakni Desa Sait Nihuta Kalangan II dan Desa Saur Manggita di Kecamatan Tukka. Kedua wilayah ini menjadi sorotan karena diduga kuat telah terjadi alih fungsi lahan besar-besaran yang memicu bencana.

Hutan di perbukitan curam tersebut disinyalir telah dibabat secara ilegal untuk dijadikan perkebunan sawit. Padahal, secara teknis dan lingkungan, lereng tersebut tidak diperbolehkan untuk tanaman sawit.

“Kami melihat sumber material kayu gelondongan yang hanyut terbawa banjir besar kemarin mayoritas berasal dari kedua desa itu. Terjadi penebangan kayu yang diganti menjadi sawit di lereng curam. Ini yang menjadi atensi kami sekarang, terkait bagaimana tindakan hukum dan penataan lahannya ke depan,” tegas Masinton.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *