Ilustrasi

KALBARAYA, SINTANG – Rencana penyediaan fasilitas jalur joging (jogging track) di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Baning, Kabupaten Sintang, kembali menjadi sorotan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menegaskan bahwa proyek ini merupakan agenda lama yang telah tercantum dalam dokumen perencanaan strategis pengembangan kawasan konservasi Baning-Kelam.

Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Demeria Pane, menyatakan dukungannya terhadap pembangunan sarana rekreasi tersebut, selama tetap memprioritaskan prinsip ramah lingkungan dan fungsi lindung hutan kota.

“Rencana lintasan joging ini sebenarnya bukan wacana baru, karena sudah masuk dalam dokumen perencanaan kawasan kami sejak lama,” ungkap Murlan Pane saat memberikan keterangan di Sintang, baru-baru ini.

Terkendala Anggaran dan Pembaruan Data Teknis Meskipun dokumen Feasibility Study dan Detail Engineering Design (FS DED) telah rampung disusun, realisasi fisik di lapangan masih menemui jalan buntu. Faktor utama yang menghambat proyek ini adalah keterbatasan sumber pendanaan.

Berikut adalah poin-poin penting terkait rencana pengembangan TWA Baning:

  • Historis Perencanaan: Konsep awal sudah disusun sejak tahun 2017, namun memerlukan penyesuaian anggaran (eskalasi harga) agar relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
  • Spesifikasi Teknis: Rancangan awal mencakup lintasan melingkar (circular) sepanjang kurang lebih 800 meter yang terintegrasi dengan ekosistem hutan.
  • Tujuan Proyek: Menyediakan ruang olahraga publik sekaligus meningkatkan daya tarik ekowisata di jantung Kota Sintang.

“Tantangan utamanya saat ini adalah anggaran. Kami terus mengupayakan koordinasi baik dengan pemerintah pusat maupun daerah agar pendanaan dapat segera dikucurkan,” tambah Murlan.

Menjaga Keseimbangan Konservasi dan Rekreasi

Murlan menegaskan bahwa konsep pembangunan di TWA Baning bersifat dinamis. Meskipun ada penambahan fasilitas fisik, aspek kelestarian hutan sebagai paru-paru kota tidak boleh dikorbankan. Jalur joging yang dirancang diharapkan mampu menjadi sarana edukasi lingkungan bagi pengunjung.

Pihak BKSDA Kalbar kini mengharapkan adanya sinergi dan kolaborasi lintas sektoral. Keterlibatan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya dinilai krusial agar TWA Baning tidak hanya menjadi kawasan hijau yang pasif, tetapi juga mampu memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi bagi warga Sintang melalui sektor pariwisata alam.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *