KALBARAYA, BEIJING – Pemerintah China melontarkan kritik pedas terhadap aksi militer Amerika Serikat (AS) yang melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Beijing menilai langkah sepihak Washington tersebut telah melangkahi kedaulatan negara lain dan mencederai prinsip hukum internasional.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mempertanyakan legitimasi hukum atas operasi pasukan elite AS yang membawa Maduro ke New York untuk menghadapi persidangan kasus narkotika.
Wang Yi: Dunia Tidak Butuh “Polisi Global” Berbicara saat melakukan kunjungan di Pakistan pada Senin (5/1/2026), Wang Yi menegaskan posisi Beijing yang konsisten terhadap kebijakan non-intervensi. Ia menyayangkan adanya negara yang merasa memiliki otoritas di atas kedaulatan negara lain tanpa mandat global yang jelas.
“Kami tidak dapat menerima adanya negara yang bertindak seolah-olah mereka adalah polisi dunia, apalagi mengklaim diri sebagai hakim dunia,” ujar Wang Yi sebagaimana dikutip dari Reuters.
Meski tidak menyebut Amerika Serikat secara eksplisit dalam pernyataan pembukanya, diplomat senior China ini mengonfirmasi bahwa kecamannya merujuk langsung pada insiden yang menimpa pemimpin Venezuela tersebut. “Keamanan dan kedaulatan setiap bangsa wajib dilindungi sepenuhnya di bawah koridor hukum internasional,” tegasnya.
Kutukan dari Markas PBB Nada serupa juga menggema di Markas Besar PBB. Pelaksana Tugas Pemimpin Misi Permanen China untuk PBB, Sun Lei, menyatakan bahwa pihaknya sangat terkejut dan mengutuk keras penggunaan kekuatan militer AS di Caracas.
Dalam pertemuan khusus Dewan Keamanan PBB, Sun Lei memperingatkan bahwa langkah militer agresif bukanlah solusi untuk menyelesaikan perselisihan politik. “Intervensi bersenjata tanpa pandang bulu hanya akan membuka pintu bagi krisis kemanusiaan dan politik yang jauh lebih besar,” tutur Sun Lei.
Kedekatan Strategis Beijing-Caracas Reaksi keras China ini tidak lepas dari hubungan bilateral yang sangat erat antara kedua negara. Hubungan diplomatik yang dijalin sejak 1974 tersebut mencapai puncaknya di era Hugo Chavez dan terus diperkuat di bawah kepemimpinan Maduro.
Bagi Beijing, Venezuela adalah mitra strategis utama di Amerika Latin, terutama dalam sektor energi dan geopolitik sebagai pengimbang pengaruh AS di kawasan tersebut. Kedekatan ini bahkan merambah hingga ranah personal, di mana putra Nicolas Maduro diketahui menempuh studi di salah satu universitas bergengsi di Beijing.
Seiring meningkatnya ketegangan di Amerika Selatan, posisi China di Dewan Keamanan PBB diprediksi akan menjadi penghalang utama bagi upaya Washington untuk mendapatkan pengesahan internasional atas transisi kekuasaan di Venezuela.
