KALBARAYA, JAKARTA – Era transmisi manual pada mobil penumpang tampaknya mulai mendekati garis finis. PT Honda Prospect Motor (HPM) memberikan sinyalemen kuat terkait masa depan varian Brio RS manual (MT) yang diprediksi akan segera dihentikan penjualannya mulai tahun 2026 mendatang.
Kabar ini diperkuat oleh informasi dari kalangan tenaga penjual yang menyebutkan bahwa tahun depan lini Brio RS kemungkinan besar hanya akan tersedia dalam satu pilihan transmisi, yakni otomatis (CVT).
Dominasi Matik yang Tak Terbendung Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM, Yusak Billy, mengonfirmasi bahwa animo konsumen terhadap varian manual di segmen Brio RS memang terus merosot. Khususnya di wilayah urban, kenyamanan transmisi otomatis jauh lebih diminati dibandingkan sensasi berkendara manual.
“Permintaan untuk Brio RS manual, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, saat ini sudah sangat minim,” ujar Yusak Billy saat memberikan keterangan terkait tren pasar otomotif nasional.
Bedah Data Penjualan: Manual Kian Tersisih Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode Januari hingga November 2025, angka distribusi Honda Brio RS memang menunjukkan ketimpangan yang tajam:
- Brio RS CVT: Mendominasi dengan distribusi 2.678 unit.
- Brio RS MT: Hanya terserap pasar sebanyak 270 unit atau setara dengan 9,2 persen dari total penjualan model RS.
Kondisi serupa merambah ke segmen Low Cost Green Car (LCGC) melalui model Brio Satya. Meski transmisi manual masih memiliki porsi di segmen ini, tipe E CVT tetap menjadi penguasa pasar dengan capaian 19.255 unit, jauh melampaui varian manual lainnya.
Strategi Produksi Berbasis Permintaan Secara akumulatif, dari total 31.068 unit keluarga Brio yang terjual selama 11 bulan di 2025, varian manual hanya mampu berkontribusi sekitar 29,4 persen. Kendati tren menunjukkan penurunan, Yusak Billy belum memberikan keputusan final mengenai waktu pasti penghentian produksi Brio RS MT.
“Kami terus melakukan penyesuaian produksi dan distribusi berdasarkan dinamika pasar serta permintaan aktual dari konsumen,” pungkasnya.
Langkah ini dipandang sebagai strategi efisiensi manufaktur di tengah dominasi mobil bertransmisi otomatis yang kian mapan di pasar Indonesia, seiring dengan meningkatnya kemacetan di area perkotaan.
