ILUSTRASI

KALBARAYA – Raksasa teknologi Amazon resmi mengumumkan langkah strategis untuk mencaplok perusahaan satelit Globalstar dalam kesepakatan fantastis senilai 11,57 miliar dolar AS atau setara Rp198 triliun. Langkah ini mempertegas ambisi Amazon dalam memperluas jangkauan bisnis telekomunikasi satelit sekaligus mengejar ketertinggalan dari Starlink milik SpaceX.

Akuisisi ini menjadi bagian dari kompetisi global memperebutkan pasar konektivitas berbasis satelit yang kini tengah menjadi primadona para pemain teknologi dunia.

Memperkuat Infrastruktur dan Teknologi Direct-to-Device (D2D)

Melalui integrasi ini, Amazon akan menyerap sekitar 24 satelit Globalstar ke dalam ekosistem jaringannya yang kini memiliki lebih dari 200 satelit. Hal ini sangat krusial bagi proyek konstelasi satelit Amazon yang menargetkan pengoperasian 3.200 unit satelit di orbit rendah bumi pada tahun 2029.

Fokus utama dari akuisisi ini adalah penguasaan teknologi Direct-to-Device (D2D). Teknologi ini memungkinkan perangkat seluler terhubung langsung ke satelit tanpa memerlukan menara BTS darat—sebuah solusi vital bagi komunikasi darurat dan konektivitas di daerah terpencil.

“Amazon saat ini tertinggal dari Starlink dalam layanan broadband satelit. Akuisisi Globalstar memberi mereka keunggulan pada posisi spektrum D2D, sekaligus peluang untuk melakukan lompatan dalam implementasi teknis,” ujar analis Summit Ridge Group, Armand Musey, sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu (22/4/2026).

Keberlanjutan Kerja Sama dengan Apple

Meski beralih kepemilikan ke Amazon, Globalstar dipastikan akan tetap menjalankan perannya sebagai penyokong fitur keselamatan satelit milik Apple. Amazon telah menandatangani kesepakatan untuk menjamin kelangsungan layanan Emergency SOS serta Find My pada perangkat iPhone dan Apple Watch.

Sebelumnya, pada 2024, Apple telah menyuntikkan investasi sebesar 1,5 miliar dolar AS kepada Globalstar untuk mendukung ekspansi layanan. Investasi tersebut juga memberikan Apple kepemilikan sekitar 20 persen saham di perusahaan yang berbasis di Louisiana tersebut.

Reaksi Pasar dan Tantangan Dominasi SpaceX

Kabar akuisisi ini langsung direspons positif oleh lantai bursa. Saham Globalstar melonjak lebih dari 10 persen, diikuti kenaikan saham Amazon sebesar 3 persen. Kontraktor utama Globalstar, MDA Space, juga merasakan dampak positif dengan kenaikan saham hingga 9 persen.

Di sisi lain, upaya Amazon ini terjadi di tengah masifnya ekspansi Starlink milik Elon Musk yang kini mengoperasikan konstelasi terbesar dengan sekitar 10.000 satelit. Starlink diperkirakan menyumbang 50 hingga 80 persen dari total pendapatan SpaceX.

“Industri ini akan terus mengalami konsolidasi guna menandingi skala kapasitas peluncuran SpaceX yang hampir tanpa batas,” ungkap analis dari Canaccord Genuity.

Target Rampung 2027

Proses akuisisi ini ditargetkan tuntas pada tahun depan. Namun, penyelesaian transaksi masih bergantung pada restu regulator, termasuk izin dari Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat, serta pencapaian target teknis pengembangan satelit oleh Globalstar.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *