KALBARAYA, WASHINGTON D.C. – Ketegangan di ruang oval Gedung Putih dilaporkan memuncak pasca-jatuhnya jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat di Isfahan, Iran, awal bulan ini. Menurut laporan terbaru dari The Wall Street Journal, Presiden Donald Trump sempat meluapkan kemarahan besar kepada para stafnya selama berjam-jam setelah menerima kabar insiden tersebut.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa Trump sempat “terisolasi” dari pusat pemantauan situasi utama saat tim keamanan nasional menerima pembaruan informasi menit demi menit mengenai nasib dua awak pesawat yang jatuh pada 3 April 2026 tersebut.
Trauma Krisis Sandera 1979 Kembali Membayangi
Jatuhnya pesawat tempur yang diyakini akibat tembakan pasukan Iran tersebut menjadi momen pertama pesawat AS lumpuh oleh serangan musuh dalam konflik ini. Foto-foto puing jet tempur yang tersebar di media sosial dilaporkan memicu kekhawatiran mendalam pada diri Trump.
Sumber internal menyebutkan bahwa Trump merasa dibayangi oleh sejarah kelam krisis sandera Iran tahun 1979. Hal ini mendorongnya untuk menuntut militer AS segera melakukan operasi penyelamatan darurat, meskipun saat itu pasukan darat AS belum dikerahkan ke wilayah kedaulatan Iran.
Operasi penyelamatan berlangsung dramatis:
- Pilot Pertama: Berhasil dievakuasi tujuh jam pasca-kejadian.
- Pilot Kedua: Ditemukan pada Sabtu malam melalui operasi berisiko tinggi.
- Respon Presiden: Trump dilaporkan terus memantau situasi dan baru beristirahat setelah pukul 02.00 dini hari.
Tangkisan Trump Terhadap Isu Intervensi Israel
Menanggapi gejolak informasi yang beredar, Trump melalui pernyataannya pada Senin (20/4/2026) membantah keras tudingan bahwa ia didorong oleh Israel untuk berperang dengan Teheran. Ia menegaskan bahwa sikap kerasnya murni dilandasi oleh prinsip keamanan nasional.
“Penyebab utamanya adalah peristiwa 7 Oktober dan keyakinan teguh saya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Trump. Ia juga menyerang balik sejumlah laporan media yang ia beri label sebagai “berita palsu.”
Eskalasi di Selat Hormuz dan Kebuntuan Diplomasi
Situasi di kawasan semakin memanas menyusul insiden di Selat Hormuz. US Central Command melaporkan bahwa kapal perang USS Spruance terpaksa melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal tanker Iran, TOUSKA, yang mencoba menerobos blokade laut Amerika.
Di media sosial Truth Social, Trump mengonfirmasi kegagalan kapal berbendera Iran tersebut menembus barikade AS. Sebagai balasan, Teheran mengancam akan melancarkan serangan terhadap aset militer Amerika, meskipun rencana tersebut dikabarkan sempat tertunda karena pertimbangan keamanan internal rezim.
Hingga saat ini, prospek perundingan damai masih berada di titik buntu. Meski media pemerintah Iran mengeklaim tidak ada rencana dialog dengan Washington, sejumlah pejabat dari Pakistan dan AS mensinyalir adanya ketertarikan Teheran untuk melanjutkan pembicaraan melalui perantara di Islamabad.