KALBARAYA, HAMBALANG – Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan tegas terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. Dalam sebuah diskusi di Hambalang, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026), Presiden menyebut aksi tersebut sebagai bentuk terorisme yang sangat keji dan memerintahkan pengusutan hingga ke akar-akarnya.

“Ini adalah tindakan biadab, ini terorisme. Saya instruksikan untuk dikejar dan diusut tuntas. Siapa yang memerintah, siapa yang membiayai, semua harus terungkap. Saya menjamin itu,” tegas Prabowo sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube Liputan6.

Presiden menegaskan tidak akan menoleransi kekerasan terhadap rakyat, terutama upaya pembungkaman suara kritis. Ia bahkan mempertimbangkan pembentukan tim investigasi independen jika diperlukan, selama tim tersebut objektif dan tidak terafiliasi dengan kepentingan asing.

Empat Personel BAIS TNI Ditahan, Diduga Terlibat Serangan

Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI bergerak cepat dengan mengamankan empat oknum anggota TNI yang diduga terlibat dalam aksi tersebut. Danpuspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, mengonfirmasi bahwa keempat terduga pelaku berasal dari satuan Detasemen Markas (Denma) BAIS TNI.

“Keempatnya merupakan anggota Denma BAIS TNI, terdiri dari personel matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara,” jelas Mayjen Yusri dalam konferensi pers di Mabes TNI, Rabu (18/3/2026).

Identitas keempat personel yang tengah menjalani pemeriksaan intensif tersebut adalah:

  • Kapten NDP
  • Lettu SL
  • Lettu BHW
  • Serda ES

Pihak TNI masih menjunjung asas praduga tak bersalah dan terus mendalami peran masing-masing personel sebelum menetapkan status tersangka secara resmi.

Polda Metro Jaya Temukan Indikasi Pelaku Tambahan

Di sisi lain, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengungkapkan temuan berbeda. Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, teridentifikasi dua orang lain yang diduga terlibat dengan inisial BHC dan MAK.

Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Iman Imanuddin, menyatakan bahwa jumlah pelaku kemungkinan besar lebih dari empat orang. “Kami menemukan bukti-bukti baru yang mengarah pada keterlibatan pihak lain. Penyelidikan terus berkembang untuk mengungkap seluruh jaringan di balik serangan ini,” ujar Iman.

Kronologi: Serangan Usai Diskusi ‘Remiliterisme’

Tragedi ini menimpa Andrie Yunus pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.30 WIB. Insiden terjadi sesaat setelah korban menyelesaikan sesi rekaman podcast di kantor YLBHI yang membahas isu sensitif mengenai “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”.

Akibat serangan air keras tersebut, Andrie mengalami luka bakar kimiawi sebesar 24% yang tersebar di area wajah, mata, dada, serta kedua tangannya. Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menilai serangan ini merupakan upaya nyata untuk mengintimidasi para pembela Hak Asasi Manusia (HAM).

“Serangan ini sangat fatal dan merupakan upaya pembungkaman. Kami mendesak negara memberikan perlindungan nyata bagi pejuang HAM sesuai amanat UU No. 39 Tahun 1999,” kata Dimas.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *