KALBARAYA, TEHERAN – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menetapkan prasyarat mutlak bagi terciptanya stabilitas di kawasan Timur Tengah menyusul eskalasi militer yang kian mencekam. Pezeshkian menegaskan bahwa perdamaian tidak akan terwujud tanpa pengakuan atas hak-hak sah Iran serta tanggung jawab finansial dari pihak agresor.
Melalui pernyataan di platform X, Rabu (11/3/2026), Pezeshkian mengungkapkan bahwa tuntutan ini telah ia sampaikan dalam komunikasi diplomatik dengan para pemimpin Rusia dan Pakistan. Ia menggarisbawahi komitmen Teheran terhadap perdamaian, namun dengan catatan keadilan yang tegas.
Tuntutan Ganti Rugi dan Jaminan Keamanan
Pezeshkian menyebut serangan yang melibatkan aliansi Amerika Serikat dan Israel sebagai pemicu utama krisis. Sebagai jalan keluar, Iran menuntut tiga poin krusial:
- Pengakuan Hak Sah: Menghormati kedaulatan Teheran secara penuh.
- Pembayaran Kompensasi: AS dituntut membayar ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan.
- Jaminan Internasional: Adanya kepastian hukum global agar agresi militer serupa tidak terulang di masa depan.
“Satu-satunya jalan menghentikan perang ini adalah pengakuan hak-hak Iran, pembayaran kerugian, serta jaminan internasional yang mengikat,” tegasnya sebagaimana dikutip dari laporan Sputnik.
Negosiasi Berlanjut, Gencatan Senjata Masih Jauh
Meski upaya mediasi gencar dilakukan oleh Rusia dan Turki, Teheran dilaporkan belum bersedia menurunkan intensitas militernya. Sumber internal pemerintah Iran mengungkapkan bahwa meskipun mereka terbuka terhadap dialog, opsi gencatan senjata belum menjadi prioritas saat ini.
“Iran tidak menolak prinsip mediasi, namun untuk saat ini, kesepakatan gencatan senjata belum disetujui,” ujar sumber tersebut kepada RIA Novosti, Kamis (12/3/2026).
Retorika Donald Trump: Sebut Operasi Iran “Ekspedisi Singkat”
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan sikap meremehkan terhadap kekuatan pertahanan Iran. Dalam konferensi pers awal Maret, Trump menyebut penetrasi militer AS ke wilayah Iran jauh lebih mudah dari kalkulasi awal Pentagon.
Trump bahkan menggunakan istilah “ekspedisi singkat” untuk menggambarkan agresi militer yang dimulai sejak 28 Februari lalu tersebut. “Bagi mereka ini adalah perang, namun bagi kami, ternyata ini jauh lebih mudah dari yang diduga,” ujar Trump saat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai skala konflik tersebut.
Konteks Konflik: Gugurnya Pemimpin Tertinggi
Ketegangan memuncak setelah serangan udara skala besar menyasar Teheran dan wilayah strategis lainnya pada akhir Februari. Televisi nasional Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dalam serangan tersebut.
Sebagai balasan, militer Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta basis militer AS di seluruh Timur Tengah. Serangan ini menandai salah satu fase paling berdarah dalam dinamika geopolitik kawasan tahun 2026, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur masif dan jatuhnya korban sipil di kedua belah pihak.
