Foto: Wakil Kohsar/AFP

KALBARAYA, ISLAMABAD – Ketegangan diplomatik dan militer antara Pakistan dan rezim Taliban di Afghanistan memasuki fase kritis pada akhir Februari 2026. Islamabad dilaporkan mengambil langkah militer agresif dengan melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan sebagai respons atas rentetan aksi terorisme yang mengguncang stabilitas domestik Pakistan.

Langkah ini menyusul tragedi bom bunuh diri mematikan di sebuah masjid di ibu kota Islamabad yang merenggut lebih dari 30 nyawa. Serangan udara tersebut menandai puncak kekhawatiran publik atas meningkatnya ancaman keamanan lintas batas yang kian tidak terkendali.

Operasi Berbasis Intelijen vs Bantahan Kabul

Berdasarkan laporan operasional pada 22 Februari 2026, militer Pakistan menargetkan beberapa titik yang diidentifikasi sebagai kamp persembunyian kelompok militan di sepanjang garis perbatasan. Pemerintah Pakistan menegaskan bahwa aksi ini merupakan “operasi presisi” berbasis data intelijen yang diarahkan kepada kelompok yang bertanggung jawab atas gelombang serangan teror di tanah air.

Di sisi lain, otoritas Taliban di Kabul membantah keras tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa wilayah Afghanistan tidak pernah digunakan sebagai basis perencanaan serangan terhadap negara tetangga, sekaligus mengecam tindakan pelanggaran kedaulatan wilayah yang dilakukan Islamabad.

Akar Konflik: Sengketa Perbatasan dan Isu TTP

Konfrontasi ini bukan sekadar insiden sesaat, melainkan akumulasi dari persoalan historis dan kegagalan diplomasi keamanan pasca-2021.

  • Warisan Kolonial: Sengketa Garis Durand yang tidak diakui Kabul sejak 1947 tetap menjadi duri dalam hubungan bilateral kedua negara.
  • Dilema TTP: Islamabad menuding Taliban gagal menekan kelompok Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) yang diduga beroperasi bebas di wilayah perbatasan.
  • Eskalasi Berulang: Insiden serupa tercatat pernah terjadi pada 2022 hingga 2024, menunjukkan pola serangan balasan yang terus berulang tanpa solusi konkret.

Data keamanan menunjukkan tren kekerasan yang mengkhawatirkan di Pakistan. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat lebih dari 1.800 jiwa melayang akibat serangan bersenjata, memberikan tekanan politik besar bagi pemerintah Pakistan untuk bertindak lebih keras di perbatasan barat.

Dampak Luas bagi Stabilitas Asia Selatan

Analis keamanan memperingatkan bahwa perselisihan ini membawa risiko sistemik bagi kawasan:

  1. Gangguan Perdagangan: Konflik dapat melumpuhkan koridor logistik di Khyber Pakhtunkhwa, yang merupakan urat nadi transit menuju Asia Tengah.
  2. Konsolidasi Kelompok Ekstremis: Kekosongan koordinasi di perbatasan sering kali dimanfaatkan oleh kelompok seperti ISIS-K dan TTP untuk memperkuat jaringan mereka.
  3. Risiko “Spiral Eskalasi”: Meski kedua pihak masih menahan diri dari perang terbuka karena beban ekonomi dan kebutuhan akan legitimasi internasional, pola “tekanan militer terbatas” berisiko lepas kendali jika korban sipil terus berjatuhan.

Asia Selatan kini berada dalam ketidakpastian baru. Tanpa adanya mekanisme koordinasi keamanan yang efektif dan transparan antara Islamabad dan Kabul, titik panas di perbatasan ini diprediksi akan terus membara sepanjang 2026. Fokus dunia kini tertuju pada apakah kedua negara mampu mengedepankan jalur diplomasi sebelum konflik terbatas ini berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *