Dokumen dari berkas Jeffrey Epstein yang dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat difoto pada Jumat, 2 Januari 2026. (Dok. AP/Jon Elswick, arsip)

KALBARAYA, WASHINGTON D.C. – Rilis terbaru dari kumpulan dokumen penyelidikan Jeffrey Epstein (Epstein Files) mengungkap sisi lain dari jaringan komunikasi sang miliarder terkait isu geopolitik sensitif. Dokumen yang dipublikasikan pada Jumat (30/1/2026) tersebut memuat percakapan elektronik Epstein yang secara khusus membahas konspirasi di balik pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Dalam rangkaian pesan yang melibatkan rekan bisnisnya, Anas al-Rashid, Epstein tampak memberikan analisis provokatif mengenai peristiwa yang mengguncang dunia pada Oktober 2018 tersebut.

Tudingan Keterlibatan Penguasa Regional

Hanya berselang sepuluh hari setelah Khashoggi dinyatakan hilang di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Epstein mengirimkan pesan yang mengindikasikan adanya aktor lain di balik layar. Saat Al-Rashid menyebut insiden itu sebagai kejadian yang “sangat buruk”, Epstein justru melontarkan spekulasi mengenai keterlibatan penguasa Uni Emirat Arab (UEA).

“Saya mencium sesuatu yang lebih besar. Saya tidak akan terkejut jika MBZ (Mohammed bin Zayed) menjebaknya,” tulis Epstein dalam pesan tertanggal 12 Oktober 2018, sebagaimana dikutip dari laporan Middle East Eye.

Epstein juga mengeklaim mendapatkan informasi dari “sumber sekunder” mengenai keberadaan rekaman video operasi pembunuhan tersebut. Ia menyebut salah satu pelaku sempat merekam aksi tersebut melalui ponsel sebelum akhirnya perangkat itu diretas oleh pihak misterius.

Analisis Perang Citra dan Agenda Pertemuan Mendesak

Percakapan tersebut juga menyoroti bagaimana krisis Khashoggi berubah menjadi perang narasi di media internasional. Al-Rashid sempat memperingatkan bahwa posisi Arab Saudi terancam kehilangan dukungan dari Presiden AS saat itu, Donald Trump, jika tidak segera melakukan pembelaan berbasis fakta.

Menariknya, dokumen tersebut mengungkap sebuah pesan pada 13 Oktober 2018 yang menyatakan bahwa MBZ meminta pertemuan bersifat “mendesak” dengan Epstein. Agenda pertemuan dadakan ini dijadwalkan dilakukan keesokan harinya, meskipun detail mengenai hasil pertemuan tersebut tidak tertera dalam berkas yang dirilis.

Kaitan dengan Jaringan Intelijen Global

Munculnya nama Epstein dalam pusaran isu Khashoggi sejalan dengan memo internal FBI yang juga dibuka ke publik pada waktu yang sama. Memo tersebut menegaskan dugaan bahwa Epstein bukan sekadar pengusaha biasa, melainkan memiliki afiliasi kuat dengan dinas intelijen Amerika Serikat dan Israel.

Dokumen tersebut menyebutkan bahwa Epstein memiliki hubungan sangat dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak. Bahkan, terdapat klaim bahwa Epstein pernah mendapatkan pelatihan khusus sebagai agen di bawah arahan langsung dari tokoh intelijen tersebut. Temuan ini menambah daftar panjang keterlibatan Epstein dalam jejaring elit politik dan spionase internasional yang melampaui kasus kriminalitas seksualnya.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *