Tada Images/stock.adobe.com

KALBARAYA, CUPERTINO – Raksasa teknologi Apple resmi memperluas ekosistem kecerdasan buatannya dengan mengakuisisi Q.ai, perusahaan rintisan asal Israel yang berfokus pada teknologi audio berbasis Artificial Intelligence (AI). Meski nilai transaksi tidak dipublikasikan secara resmi, laporan Reuters menyebut kesepakatan tersebut mencapai angka fantastis 1,6 miliar dolar AS atau setara Rp27 triliun.

Q.ai sebelumnya merupakan startup yang didukung oleh jajaran investor kakap seperti Kleiner Perkins, Spark Capital, hingga GV (dahulu Google Ventures).

Langkah Apple mengakuisisi Q.ai bukan tanpa alasan. Perusahaan ini mengembangkan penerapan machine learning tingkat tinggi yang memungkinkan perangkat memahami ucapan meski dalam kondisi berbisik atau di lingkungan dengan kebisingan ekstrem.

Salah satu inovasi paling mutakhir milik Q.ai adalah paten teknologi yang memanfaatkan mikrogerakan kulit wajah. Melalui sensor ini, perangkat dapat:

  • Mendeteksi kata hanya dari gerakan mulut tanpa suara.
  • Mengidentifikasi identitas pengguna secara biometrik.
  • Menganalisis kondisi fisiologis seperti detak jantung, laju pernapasan, hingga status emosional pengguna.

Akuisisi ini juga membawa sekitar 100 talenta terbaik Q.ai bergabung ke Apple Park, termasuk sang CEO, Aviad Maizels. Bagi Apple, Maizels bukan orang asing. Ia adalah sosok di balik PrimeSense—perusahaan sensor 3D yang dibeli Apple pada 2013—yang menjadi cikal bakal transisi dari Touch ID ke Face ID pada iPhone.

“Bergabung dengan Apple merupakan kesempatan luar biasa untuk menembus batas teknologi dan mewujudkan potensi penuh dari inovasi yang telah kami bangun,” ujar Maizels dalam pernyataan resminya.

Johny Srouji, Wakil Presiden Senior Teknologi Perangkat Keras Apple, menyambut hangat integrasi tim Q.ai. Ia menyebut Q.ai sebagai pionir dalam menggabungkan pencitraan visual dan machine learning dengan cara yang kreatif.

Pengamat industri menilai teknologi Q.ai akan segera diimplementasikan pada lini produk audio Apple, khususnya AirPods. Setelah sukses menghadirkan fitur penerjemahan bahasa secara real-time tahun lalu, Apple tampaknya ingin membawa AirPods ke level berikutnya: earbud yang tidak hanya mendengar suara, tetapi juga memahami konteks fisik dan emosional penggunanya.

Integrasi ini diprediksi akan semakin mengukuhkan dominasi Apple dalam persaingan perangkat keras pintar yang didukung oleh kecerdasan buatan yang intuitif.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *