KALBARAYA, PONTIANAK – Atmosfer kebanggaan menyelimuti Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Tanjungpura (Untan) pada Selasa (3/3/2026). Dekanat Fisipol secara resmi melepas salah satu mahasiswi terbaiknya, Hilaria Memel, yang akan mewakili Kalimantan Barat dalam ajang bergengsi Puteri Indonesia 2026.
Hilaria Memel, mahasiswi Program Magister Administrasi Publik, hadir meminta restu dan dukungan moral dari almamaternya sebelum bertolak ke Jakarta pada April mendatang. Kehadiran perempuan kelahiran Sepauk, Sintang ini disambut langsung oleh Dekan Fisipol Untan, Dr. Herlan, M.Si.
Dukungan Akademik untuk Prestasi Non-Akademik
Dr. Herlan menegaskan bahwa pihak universitas berkomitmen penuh mendukung talenta mahasiswa, tidak hanya di meja birokrasi dan riset, tetapi juga di panggung prestasi nasional.
“Memel adalah representasi mahasiswa pascasarjana kami yang progresif. Melalui panggung Puteri Indonesia, kami berharap ia mampu memperkenalkan identitas kampus serta mempromosikan kekayaan daerah Kalimantan Barat secara lebih luas,” ujar Herlan. Ia bahkan menjanjikan apresiasi khusus atau bonus bagi mahasiswa yang berhasil mengharumkan nama universitas di tingkat nasional.
Rekam Jejak: Dari Paskibraka hingga Advokasi Budaya
Perjalanan Memel menuju mahkota Puteri Indonesia didasari oleh rekam jejak organisasi dan prestasi yang solid. Alumni Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Yogyakarta ini merupakan Purna Paskibraka Sintang 2016 dan aktif dalam kepengurusan Pemuda Katolik Sintang periode 2025-2030.
Sebelum menyandang gelar Puteri Indonesia Kalbar 2 tahun 2026, Memel telah mengukir prestasi sebagai Dara Kumang 2024 dan menembus jajaran Top 12 Puteri Kebudayaan Indonesia 2024. Di luar aktivitas pageant, ia merupakan profesional yang menjabat sebagai Staf Marketing di CU Keling Kumang.
Diplomasi Gula Aren: Misi Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan
Berbeda dengan kontestan pada umumnya, Memel membawa advokasi spesifik yang berakar pada kearifan lokal: Gula Aren Sintang. Baginya, komoditas ini adalah simbol multidimensi yang menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi.
“Gula aren adalah benteng pelestarian hutan. Dengan menjaga pohon enau tetap produktif, masyarakat secara otomatis melindungi lahan dari alih fungsi hutan. Ini adalah siklus ekonomi hijau yang nyata di desa,” tutur Memel.
Ia juga menyoroti keunggulan kesehatan gula aren yang memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan gula pasir, menjadikannya alternatif lebih aman bagi penderita diabetes ringan serta kaya akan mineral penting seperti kalium dan zat besi.
Motivasi Menuju Panggung Nasional
Dukungan dari civitas akademika Fisipol Untan diakui Memel sebagai suntikan semangat yang signifikan. Baginya, silaturahmi ke kampus bukan sekadar formalitas, melainkan cara memperkuat akar intelektualnya sebelum bersaing dengan perwakilan dari seluruh provinsi.
“Dukungan ini menjadi motivasi besar bagi saya. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan Kalbar memiliki kedalaman wawasan dan kepedulian pada isu lingkungan serta ekonomi kerakyatan,” pungkasnya optimistis.