
KALBARAYA – Seni vokal yodel yang selama ini melekat kuat dengan budaya Swiss akhirnya meraih pengakuan internasional. Dalam sidang UNESCO yang berlangsung di New Delhi pada Kamis (11/12), tradisi bernyanyi khas tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Pengakuan ini menempatkan yodel sejajar dengan puluhan tradisi budaya lainnya yang juga masuk daftar tahun ini. Beberapa di antaranya berasal dari berbagai belahan dunia, mulai dari musik highlife Ghana, kuliner khas Italia, minuman fermentasi Maksym dari Kyrgyzstan, hingga seni musik dan tari El Joropo asal Venezuela.
Berbeda dari daftar Warisan Dunia yang menitikberatkan pada bangunan atau situs bersejarah, kategori budaya takbenda UNESCO menyoroti praktik budaya hidup yang membentuk identitas dan keberlanjutan suatu komunitas.
Dalam penjelasannya, UNESCO menyebut yodel sebagai teknik olah suara unik yang dapat dibawakan secara individu maupun kolektif. Pertunjukan yodel kerap tampil dalam konser, festival rakyat, hingga kompetisi, sering kali dipadukan dengan iringan akordeon dan busana tradisional Swiss.
Diusulkan Langsung oleh Swiss
Pengajuan yodel sebagai warisan budaya dunia dilakukan langsung oleh Pemerintah Swiss. Mereka menegaskan bahwa yodel bukan hanya peninggalan masa lalu yang identik dengan penggembala Alpen, melainkan ekspresi seni modern yang terus berkembang.
Saat ini, tradisi tersebut masih hidup dan aktif dipraktikkan. Tercatat sekitar 12.000 penyanyi yodel tergabung dalam lebih dari 700 kelompok yang bernaung di bawah Swiss Yodeling Association. Dengan pengakuan UNESCO ini, yodel diharapkan semakin dikenal luas sekaligus terjaga keberlangsungannya sebagai simbol identitas budaya Swiss.