KALBARAYA, GAZA – Brigade Izz al-Din al-Qassam, sayap militer Hamas, secara resmi mengonfirmasi kematian juru bicara legendaris mereka yang selama ini dikenal dengan nama samaran Abu Obeida. Dalam pengumuman yang disiarkan pada Senin (29/12/2025), kelompok tersebut sekaligus memperkenalkan sosok baru yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di sektor informasi perang mereka.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Hamas mengungkap identitas asli di balik topeng dan keffiyeh merah tersebut. Sosok yang selama dua dekade menjadi “suara perlawanan” itu bernama asli Huthaifa Samir al-Kahlout.
Gugur dalam Serangan Udara di Kota Gaza Juru bicara baru, yang memilih untuk tetap menggunakan nama samaran “Abu Obeida” sebagai simbol keberlanjutan, mengungkapkan bahwa Kahlout gugur dalam operasi militer Israel di Kota Gaza pada Agustus 2025 lalu.
“Dengan duka mendalam, kami meratapi pemimpin besar Huthaifa Samir al-Kahlout, atau Abu Ibrahim. Selama dua dekade, ia memimpin aparat media al-Qassam, mematahkan narasi musuh, dan membangkitkan semangat bangsa,” ujar juru bicara baru tersebut dalam rekaman pidato yang dikutip dari Middle East Eye, Selasa (30/12).
Selain Kahlout, Hamas juga mengonfirmasi kehilangan sejumlah petinggi militer lainnya dalam rangkaian konflik tahun 2025, termasuk mantan komandan Brigade al-Qassam, Mohammed al-Sinwar, serta pemimpin senior Raed Saad.
Profil “Si Bertopeng”: Dua Dekade Tanpa Wajah Huthaifa al-Kahlout mulai dikenal dunia sejak Intifada Kedua (2000–2005). Nama “Abu Obeida” yang ia sandang merujuk pada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, panglima besar dalam sejarah Islam. Sejak kemunculan pertamanya pada 2004, ia konsisten tampil tanpa pernah memperlihatkan wajahnya di depan kamera.
Kahlout lahir pada pertengahan 1980-an dan keluarganya merupakan pengungsi tragedi Nakba 1948. Popularitasnya meroket secara global, terutama setelah eskalasi konflik pada Oktober 2023. Gaya bicaranya yang lantang dan puitis menjadikannya simbol perlawanan di dunia Arab, bahkan kutipan pidatonya sering dijadikan slogan populer di media sosial.
Target Utama Intelijen Global Perannya tidak hanya terbatas pada publikasi video perang. Amerika Serikat sempat menjatuhkan sanksi terhadapnya pada April 2024, menuding Kahlout sebagai otak di balik operasi perang informasi dan pengaruh siber Brigade al-Qassam.
Israel dilaporkan telah berulang kali mencoba melakukan upaya pembunuhan terhadap Kahlout selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya ia dinyatakan gugur dalam serangan di jantung Kota Gaza tahun lalu. Kini, identitas “Abu Obeida” akan terus dijalankan oleh penerusnya sebagai identitas institusional sayap militer Hamas dalam menghadapi dinamika konflik di Timur Tengah.
