KALBARAYA, BANDUNG – Di usia yang baru menginjak 11 tahun, Muhammad Nandika Saepulloh atau yang akrab disapa Dika, harus bergulat dengan tajamnya rumput sawah dan licinnya pematang. Bukan untuk bermain, bocah asal Bandung ini menghabiskan waktunya menyisir area persawahan demi mencari ular yang kerap bersembunyi di balik rimbunnya padi.

Keberanian Dika menangkap ular secara manual tanpa rasa takut belakangan ini viral di media sosial. Aksi aslinya diabadikan oleh Moel, seorang tetangga yang juga menjadi mentor sekaligus penampung hasil tangkapan Dika.

BACA JUGA : Geledah Rumah Pelajar di Garut, Densus 88 Sita Bahan Bom dan Buku Neo-Nazi

Bermula dari Ketidaksengajaan

Hobi unik ini muncul secara tidak terduga lima bulan lalu. Saat itu, Dika yang sedang asyik memancing belut melihat Moel sedang memandikan ular karung (ular kadut) di sawah. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya; Dika mulai mendekat, menyentuh, hingga akhirnya jatuh cinta pada aktivitas berinteraksi dengan reptil.

Melihat potensi dan nyali besar sang bocah, Moel akhirnya memberdayakan Dika untuk membantu mencari ular koros atau ular sawah lainnya. Ular-ular hasil tangkapan Dika dibeli oleh Moel seharga Rp10.000 per ekor untuk dijadikan pakan reptil koleksinya atau dijual kembali ke pasar hewan.

“Satu ekor ular koros saya hargai Rp10.000. Biasanya Dika bisa bawa sampai lima ekor sehari, tapi tidak jarang juga ia pulang tanpa hasil,” ungkap Moel kepada media, Jumat (26/12/2025).

Edukasi Keamanan Menjadi Prioritas

Sadar akan risiko profesi “kecil-kecilan” yang dilakukan Dika, Moel tidak lepas tangan. Ia rutin memberikan edukasi mengenai jenis-jenis ular yang berbahaya.

“Saya tegaskan kepada Dika, ular berbisa sama sekali tidak boleh disentuh atau ditangkap. Saya tunjukkan perbedaannya saat sedang memberi makan ular di rumah agar dia tidak salah ambil di lapangan,” kata Moel menjelaskan prosedur keamanannya.

Penyayang Keluarga di Balik Status Putus Sekolah

Di balik keberaniannya, Dika adalah sosok anak yang sangat berbakti. Pendapatannya yang tak seberapa itu jarang digunakan untuk keperluan pribadinya sendiri. Dika lebih memilih memberikan uang hasil tangkapan ular tersebut kepada ibunya yang berjualan perabotan dan ketiga adiknya.

Ayah Dika sendiri bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang pas-pasan. Ketulusan Dika membantu dapur tetap mengepul inilah yang membuat Moel terenyuh.

Namun, terselip keprihatinan di tengah ketangguhan Dika. Bocah yang memiliki cita-cita menjadi polisi ini harus putus sekolah sejak kelas 4 SD. “Seharusnya sekarang sudah kelas 5, tapi dia berhenti setelah sempat pindah sekolah. Kami sedang mengupayakan komunikasi dengan orang tuanya agar Dika bisa kembali melanjutkan pendidikannya,” pungkas Moel.


By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *