KALBARAYA, KETAPANG — Potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kini berpusat di kawasan selatan provinsi tersebut. Berdasarkan data pemantauan pada Senin (21/9/2026), sebanyak 333 dari total 362 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi terkonsentrasi di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Kabupaten Ketapang mencatatkan sebaran titik panas tertinggi mencapai 294 titik. Disusul Kabupaten Kayong Utara sebanyak 39 titik dan Kabupaten Melawi 17 titik. Secara akumulatif, sekitar 92 persen titik api di Kalbar berada di dua kawasan selatan tersebut.
Pekatnya kabut asap di wilayah Ketapang dilaporkan memangkas jarak pandang hingga di bawah satu kilometer. Kondisi ini melumpuhkan penerbangan verifikasi dan mengganggu efektivitas manuver penanganan karhutla oleh tim satgas udara.
Gubernur Turun Langsung Menyusuri Medan Terjal
Merespons situasi darurat tersebut, Gubernur Kalbar Ria Norsan terjun langsung ke lokasi kebakaran di kawasan Bukit Peramas, Kabupaten Kayong Utara. Didampingi personel gabungan, relawan, dan warga lokal, Gubernur menyusuri medan berbukit guna menjangkau lokasi kobaran api.
Mayoritas vegetasi yang terbakar di Bukit Peramas merupakan tumpukan dedaunan dan ranting mengering akibat dampak kemarau panjang. Kendati karakter tanah di area perbukitan ini didominasi struktur mineral—yang relatif lebih mudah dipadamkan ketimbang lahan gambut—hambatan utama petugas justru terletak pada topografi wilayah.
“Pantauan di lapangan menunjukkan area yang terbakar dominan materi daun dan batang pohon kering yang ter dampak kemarau,” terang Ria Norsan.
Jalur menuju titik api tergolong ekstrem dengan kondisi tanah tidak rata, terjal, dan berbatu. Akses sulit tersebut memaksa jajaran petugas dan relawan mengangkut peralatan pemadam secara manual dengan berjalan kaki.
“Akses menuju titik api cukup menanjak dan terjal, itu yang menjadi tantangan utama. Saya berpesan kepada seluruh regu pemadam dan relawan untuk senantiasa mengutamakan keselamatan kerja,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Ria Norsan kembali mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Ia menekankan bahwa paparan kabut asap akibat karhutla sangat berisiko bagi kesehatan publik, khususnya kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.