ILUSTRASI

KALBARAYA, JAKARTA – Fenomena El Niño berkepanjangan memicu penurunan debit air sungai secara signifikan di wilayah Kalimantan, Sulawesi, hingga Jawa. Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Diana Kusumastuti, mengungkapkan bahwa berdasarkan pemantauan real-time terhadap 242 bendungan di Indonesia, sebanyak 143 bendungan di antaranya telah berada dalam kondisi kering dengan tingkat keterisian hanya 0 hingga 33 persen dari kapasitas penampungan.

BMKG memprediksi dampak cuaca ekstrem ini masih berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Kendati pasokan air di ratusan bendungan menyusut drastis dan 52 bendungan lainnya berada di bawah status normal, KemenPU memastikan ketersediaan alokasi air untuk irigasi pertanian serta pemenuhan air baku masyarakat sejauh ini masih terus diupayakan mengalir.

Untuk mengantisipasi krisis yang kian meluas, Satuan Tugas Penanganan El Niño yang dibentuk sejak Juli 2026 telah melakukan intervensi di lebih dari 2.000 titik terdampak. Langkah darurat yang ditempuh mencakup pendistribusian air bersih bagi 987 ribu warga terdampak, optimalisasi sumur irigasi untuk 62 ribu hektare sawah kering, pemuatan sekat kanal guna menanggulangi karhutla di lahan gambut, hingga pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan hulu danau serta bendungan kaskade.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *