KALBARAYA, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perdebatan sengit usai menerbitkan perintah eksekutif yang merombak drastis pedoman vaksinasi anak. Kebijakan ini menyusutkan daftar rekomendasi vaksin universal bagi anak sehat di AS, dari yang awalnya 18 jenis menjadi hanya 11 jenis.
Meski Trump mengklaim langkah pemerintahannya ini sebagai “standar emas sains” (gold standard science), komunitas medis menilai aturan tersebut justru menyimpang jauh dari konsensus ilmiah.
Lewat aturan baru ini, sejumlah vaksin yang dicoret dari daftar wajib kini dialihkan ke kategori keputusan klinis bersama (shared clinical decision-making). Artinya, pemberian vaksin diserahkan sepenuhnya pada kesepakatan antara orang tua dan dokter. Di sisi lain, American Academy of Pediatrics (AAP) dengan tegas menolak pelonggaran ini dan tetap merekomendasikan 18 jenis vaksin untuk anak.
Mengabaikan Risiko Penyakit Mematikan
Sejumlah pakar menyoroti bahaya di balik pencoretan beberapa vaksin krusial, seperti vaksin meningokokus dan influenza. Penyakit-penyakit ini memiliki rekam jejak yang fatal jika perlindungan populasi menurun.
Sebagai contoh, wabah bakteri meningokokus B (MenB) yang melanda kalangan mahasiswa di Canterbury, Inggris, pada Maret 2026 lalu. Minimnya cakupan vaksinasi MenB pada kelompok usia tersebut memicu puluhan kasus infeksi dan merenggut dua nyawa.
Bangkitkan Mitos Usang Antivaksin
Selain memangkas jumlah, perintah eksekutif Trump memuat poin kontroversial yang sejalan dengan narasi kelompok antivaksin. Ia mengusulkan agar vaksin kombinasi MMR (campak, gondongan, rubela) dipecah menjadi tiga suntikan terpisah, serta mendesak penghapusan adjuvan berbasis aluminium dari produksi vaksin.
Para ilmuwan menegaskan, memisahkan vaksin MMR justru memperlama masa rentan anak terhadap infeksi. Sementara itu, penggunaan aluminium sebagai penguat respons imun (seperti pada vaksin Tdap) telah terbukti aman melewati riset puluhan tahun tanpa efek samping jangka panjang.
Situasi makin keruh ketika Trump kembali mengulang klaim palsu yang mengaitkan vaksin dengan autisme, menyebut vaksin MMR kombinasi bisa mematikan, hingga menyamakan volume suntikan dengan sebotol soda—klaim-klaim yang sama sekali tidak memiliki dasar sains.
Peringatan Keras dari Ilmuwan dan Politisi
Pakar kesehatan dari Stanford University, Dr. Jake Scott, memperingatkan bahwa jika jadwal baru ini diterapkan, penyakit-penyakit yang seharusnya bisa dicegah akan kembali mewabah dan memakan korban jiwa.
“Presiden Amerika Serikat mengatakan kepada para orang tua di depan kamera, bahwa suntikan yang direkomendasikan dokter bisa membunuh anak mereka,” kritik Scott ngeri. Ia berkaca pada sejarah di Jepang dan Inggris, di mana penurunan angka vaksinasi akibat misinformasi selalu berujung pada krisis kesehatan mematikan.
Kritik tak hanya datang dari kubu medis. Senator Partai Republik yang juga seorang dokter, Bill Cassidy, turut mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut di akun X miliknya, mendesak agar pemerintah lebih fokus pada hal yang benar-benar mencegah penyakit.
Kini, bola panas berada di tangan Direktur baru Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Dr. Erica Schwartz. Dikenal sebagai pendukung kuat vaksinasi anak, sikap Schwartz akan sangat menentukan apakah aturan kontroversial ini benar-benar direalisasikan atau justru memicu pertempuran panjang antara sains dan politik di Amerika Serikat.